Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Oktober 2018

Alhamdulillah, Santri Nurul Musthofa Raih Juara ke-1 Festival Sholawat Nusantara Kecamatan Kadungora

GURUMUDA.WEB.ID - Bersyukur dan bangga dengan hasil kerja keras, kekompakkan, dan doa dari semua pihak, termasuk wali santri. Akhirnya, grup hadroh Nurul Musthofa AnNuroniyah yang saya asuh bisa meraih juara pertama dalam Festival Sholawat Nusantara se-kecamatan Kadungora.


Festival Sholawat Nusantara se-Kecamatan Kadungora, Garut ini diselenggarakan oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ansor Kadungora, sekaligus memperingati Hari Santri Nasional 2018 dengan tema "Bersama Santri, Damailah Negeri."


Baca Juga:

Hafal Al Mulk Mumpung Masih Kecil. Istimewanya Luar Biasa! 
Berkah itu Ketika Santri Aa Gym Ngasih Motivasi 
Santri Multitalent: Tak hanya mengkaji ilmu agama, melainkan mereka harus siap belajar IT dan Seni Budaya 
Dilaksanakan di Gedung Olahraga Binangkit, Desa Cisaat, Kadungora. Dimulai dari jam 09.00 s.d 21.00.

Benar-benar tidak menyangka, karena semua doa, ikhtiar dan tawakkal dikumpulkan menjadi satu membuahkan hasil yang istimewa.

Berikut Daftar Juara Festival Sholawat Nusantara se-Kecamatan Kadungora:
Juara Pertama: Nurul Mushofa AnNuroniyah
Juara Kedua: Ahbabun Nabi 
Juara Ketiga: Tarbiyatul Athfal

Kenapa Nurul Musthofa AnNuroniyah Juara Pertama?


Dari beberapa pengalaman saya yang tidak bisa dihitung selama menjadi juri festival marawis, hadroh dan terbangan. Bisa saya simpulkan kenapa grup Hadroh Nurul Musthofa AnNuroniyah memang layak menjadi juaranya. Yang pastinya saya profesional penilaian secara objektif.


Berlatih

Syarat utama bagi setiap grup marawis/hadroh/qasidah atau grup apapun yang hendak mengikuti festival adalah berlatih. Berlatih adalah 50% untuk siap menjadi juara. Tanpa berlatih, semuanya bernilai NOL.

Jaga Kekompakkan

Kompak dari semua segi. Vocal, Penampilan, termasuk kostum yang hendak dipakai. Jangan sampai kostum yang dipakai festival asal-asalan. Kostum seragam yang biasa dipakai mengaji tiap hari. Tentunya ini sangat berbeda, kita sedang mengikuti apa? Festival kan?

Survey Lokasi Panggung

Ya. Sebelum kita akan tampil di panggung utama festival, seharusnya kita tahu bagaimana posisi dan lokasi panggung. Ini sebagai solusi bagaimana cara kita masuk dan keluar podium. Karena jika tidak jeli, sering saya dapati peserta festival yang tidak kompak saat masuk dan keluar turun dari panggung.

Pintar Memilih Lagu

Apalagi ini yang penting. Jika panitia mewajibkan judul sholawat satu seperti "Ya Habibal Qolbi" dengan lagu pilihan bebas, asal sholawat (syair pujian kepada Rasulullah), maka itu tidak masalah.

Yang jadi masalah adalah, ketika panitia menyertakan beberapa lagu wajib pilihan sampai 10 judul sholawat. Maka, kita sebagai peserta festival harus pintar-pintar dalam memilih lagu yang akan ditampilkan.

Karena Apa?
Juri adalah manusia yang memiliki keterbatasan. Apalagi ketika menghinggapi kepada dewan juri rasa bosan. Yang didengar sholawat itu-itu saja. 

Maka, pintar memilih lagu adalah solusi tepat bagi peserta festival marawis/hadroh.

Kesimpulan:

Masih banyak yang seharusnya saya tulis, insya Allah di lain waktu saya share juga artikel yang berhubungan dengan festival marawis dan hadroh.

Baca Juga Artikel yang berhubungan:


baca selengkapnya

Selasa, 28 Juni 2016

Kami Sebut Ngobrog

Di bulan Ramadhan, ada kegiatan special kami yang sering lakukan selain mengisi dengan Pesantren Ramadhan, yaitu NGOBROG. Ini istilah kami untuk memmbangunkan masyarakat untu k sahur. Seperti halnya orang lain, kami membawa seperangkat alat pukul. Seperti kentungan, bedug, botol, dan kami tambah dengan alat marawis.

Untuk ramadhan kali ini, kami mengelilingi 4 kampung; Lunjuk Girang, Citangtu, Pataruman dan Cihaur. Masih kawasan Desa Talagasari Kadungora.

“Sahur… sahur…!!!”

“Sahur… sahur…!!!”

Anak-anak santri begitu bersemangat meneriakan kata “Sahur … sahur…”

Perjalanan lumayan membutuhkan waktu sekitar satu jam, dimulai dari jam 02.30 sampai dengan 03.30 WIB. Cukup untuk waktu bersahur. Tidak telalu pagi. Karena pasti bakal berefek ketidaknyamanan masyarakat kalau terlalu pagi.


Kurang lebih 50 anak-anak santri Nurul Musthofa yang mengikuti NGOBROG ini. Suara keras mereka mampu membangunkan masyarakat yang lagi enak-enaknya tidur. Cukup paten juga suara mereka (hihihi…)
Yang penting ada kemanfaatan, karena dengan mereka, masyarakat bisa bangun untuk melaksanakan sahur. Karena dalam sahur ada keberkahan. Aamiin.

Shalat Tasbih sebelum NGOBROG

Sebelum melaksanakan aksi ngobrog, anak-anak santri dibangunkan jam setengah dua. Mereka dibelajarkan untuk mengerjakan Shalat Sunat Tasbih. Dilaksanakan empat rakaat, dua kali salam. Alhamdulillah, tahadust bini’mah. Faidah shalat tasbih yang saya rasakan adalah belajar focus. Ya. Karena dari tiap ba’da bacaan iftitah, surat sunah atau rukun shalat lainnya, kita disunahhkan memperbanyak baca tasbih. Misalnya, setelah baca iftitah, harus membaca “subhanallah, wal hamdulillah, walaailaahaillallah, wallahu akbar” sebanyak 15 kali. Setelah fatihah dan surat sunah membaca 10 kali tasbih. Dan seterusnya ruku, I’tidal, sujud, dlsb.
moon maaf fotonya burem


Empat rakaat telah kami lakukan, diteruskan dzikir; istighfar, tahlil dan shalawat. Tak lupa, pun kami mendo’akan orang tua kami. Semoga mereka dipanjangkan umurnya untuk beribadah, diluaskan rezekinya yang berkah. Apalagi ada sebagian dari orang tua kami yang telah berada di alam barzakh. Semoga mereka mendapatkan kenikmatan alam kubur.


Alhamdulillah, semoga anak-anak santri bisa menjadi manusia yang berakhlak dan pribadi Qur’ani. Bermanfaat kelak di masyarakat. Aamiin.


baca selengkapnya