Tampilkan postingan dengan label Santri Berdakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri Berdakwah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2016

Santri Berdakwah #2

www.gurumuda.web.id - - - Berdakwah tidak harus menunggu menjadi Kyai atau Ajengan. Sebagai santrilah dakwah dimulai.
Alhamdulillah, Santri Berdakwah kali keduanya kami lakukan ini merupakan salah satu Program Lembaga Pendidikan Islam & Dakwah Nurul Musthofa. Pelaksanaannya dilakukan sebulan sekali, dimana Santri langsung terjun ke masyarakat.

Kali ini, rumah yang dijadikan tempat kajian yaitu Ibu Hajjah Aida Lestari, salah satu warga masyarakat Kampung Lunjuk Girang yang mendedikasikan diri berdakwah di bidang Kesehatan.
Do'akan kami selalu semoga istiqomah untuk membelajarkan diri untuk menjadi pribadi yang berkualitas dan sholeh.
Waktu: Ba'da Maghrib s.d 20.30 WIB
Tempat: Ibu Hajjah Aida Lestari
Materi:
- Mahabbatur Rasul
- Do'a Bareng Yatim Dhuafa
- KItab Maulid Adh Dhiyaul Lami'

DONASI DAKWAH
LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM & DAKWAH NURUL MUSTHOFA
No. Rekening: 7085678919
Bank Syariah Mandiri (kode bank: 451)
an. Pondok Pesantren Nurul Musthofa
Read More

Kapan Santri Harus Berdakwah (1)

GURUMUDA.WEB.ID - Berdakwah bukan saja tugas Kyai/Ustad/Ajengan, dakwah pun harus dilakukan Santri meski saat ini masih menimba ilmu, di pesantren atau di madrasah dekat rumah. Berdakwah berarti mengajak kepada kebaikan, menyeru kepada jalan Allah Ta'ala dan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.

Jangan menunggu BISA
Jangan menunggu PINTAR
Jangan menunggu 'ALIM
Berdakwahlah SAAT INI JUGA!!!

Ya. Cara Santri berdakwah tentunya berbeda sebagaimana gurunya. Tentu saja dengan perkara yang mudah dan ringan, yang terdekat.

Dengan Akhlak

Misi dakwah dengan metode Akhlak sangat mujarab bagi siapapun, tak terkecuali bagi saudara kita yang saat ini masih berjalan di jalan kemungkaran. Preman yang pemabuk, misalnya.

Saya teringat dengan keluhuran akhlak mulia Almarhum Habib Munzir bin Fuad Al Musawwa. Pernah beliau silaturahmi kepada preman yang terkenal dengan kebengisannya, menyiksa atau membunuh sudah biasa dilakukannya. Habib Munzir mendatangi rumahnya. Lalu, Habib Munzir mengucapkan salam. Yang disalaminya tak menjawab. Malah si preman membentaknya, "Mau apa?"
Dengan lembut dan keramahan, Habib Munzir mencium tangan si preman.

“Saya mau mewakili pemuda sini, untuk mohon restu dan izin pada Bapak. Agar mereka diizinkan membuat majelis di musholla dekat sini.”

Hati mana yang tidak bergetar hebat dengan ucapan Habib Munzir 'Sulthonul Qulub' Al Musawwa ini.

“Seumur hidup saya belum pernah ada kyai datang kerumah saya. Lalu kini, Pak Ustadz datang ke rumah saya, mencium tangan saya. Tangan ini belum pernah dicium siapapun. 
Bahkan anak-anak sayapun jijik pada saya dan tak pernah mencium tangan saya.Semua tamu saya adalah penjahat, mengadukan musuhnya untuk dibantai. Menghamburkan uangnya pada saya agar saya mau berbuat jahat lagi dan lagi….

Kini datang tamu minta izin pengajian pada saya. Saya ini bajingan, kenapa minta izin pengajian suci pada bajingan seperti saya.” Si preman tersedu. Ia roboh, terduduk dari kursinya.

Lihatlah. Sungguh. Tidak mudah mengikuti akhlaknya Habib Munzir dalam perjalanan dakwahnya.

Read More