Tampilkan postingan dengan label Hubbu Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hubbu Nabi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Desember 2016

Muqoddimah Kitab Syi'rul Hisan

GuruMuda.web.id - Malam Jum’at memang rutinitas saya dan anak-anak mengisi malam penuh berkah ini dengan istighosah wa sholawah. Juga pembacaan sirah nabi dalam Kitab Syi’rul Hisan berbahasa Sunda huruf Pegon. Saya lantunkan dengan danding Pupuh Sinom.

Syi’rul Hisan fi Tafadhil Maulid Sayyidil Insi wal Jan adalah nama kitab resminya. Yang berarti Syair Mulia: Menyambut Kelahiran Pemimpin Manusia dan Jin.

Buah karya Muhammad Juwaini bin Abdurrahman dari Parakansalak, Sukabumi.

Sementara hak penerbitannya dipegang oleh As Sayyid Ali Al Aydrus. Kitab Syi'rul Hisan mulai dicetak sebelum Juli 1937 (1356 H).

Kitab Syi'rul Hisan adalah kumpulan syi'iran. Jadi dalam pembacaannya pun bisa bahar yang disesuaikan dengan liriknya.

Namun, biasanya untuk di jilid pertama, saya menggunakan Pupuh Sunda "Sinom" atau "Maskumambang"

Muqoddimah Kitab Syi’rul Hisan


Héi Alloh Nu Maha Agung
Abdi nyuhunkeun pitulung
midamel ieu syi’iran
Nyarioskeun mauludan

Nyarioskeun mauludna
Gusti abdi sadayana
Muhammad kakasih gusti
Panutupna nabi-nabi

Anu parantos dipilih
Jadi lawangna pangasih
Anu seueur mu’jizatna
Teu aya étangannana

Anu nyaah ka umatna
Kanu tumut ka anjeunna
Anu ngaboga syafa’at
Anu agung di Qiyamah

Nyarioskeun Gusti Alloh Ngadamel Nur Kanjeng Nabi Muhammad Méméh Ngadamel Nabi Adam


Keresa nu Maha Agung
Ngadamel Nur anu luhung
Saméméh didamel ramana
Nabi Adam jeung garwana

Saparantos Gusti Alloh
Midamel nur Rosululloh
Lajeng damel nabi adam
‘alaihi afdolu salam

Lajengna nur ditetepkeun
Di Adam dimanatkeun
Lajeng kanjeng Nabi Adam
‘alaihi afdolu salam

Dilebetkeun ka sawarga
Pitempateun anu mulya
Malaikat diparéntah
kedah sujud teu ngabantah

Ti dinya cahyana ngalih
Ka Nabi Syits nu dipilih
Lajeng kanjeng Nabi Adam
‘alaihi afdolu salam

Wasiat ka sadayana
Ka putra sareng putuna
Kieu wasiat ramana
Ka Nabi Syits pangpayunna

Hei Nabi Syits éta cahya
Cahaya nabi nu mulya
Ulah dilalaworakeun
Ku manéh mudu pindahkeun

Ka istri anu beresih
Ka nu suci masing rapih
Lajeng cahya kanjeng nabi
Ngalih deui ngalih deui

Tinu suci kanu suci
Dongkap ka keresa gusti
Ngalihna éta cahaya
Ka Abdul Mutholib téa

Ti Abdul Mutholib ngalih
Eta cahya ka Abdulloh
Ti Abdulloh ka gerhana
Siti Aminah wastana

Nu diselir ku pangéran
Dipapaprin kamulyaan
Didamel ibu ramana
Nabi anu pang unjulna


Semoga bermanfaat bagi yang sedang mencari informasi Kitab Syi'rul Hisan.
Saya dan anak-anak sedang berdo'a setelah membacakan Kitab Syi'rul Hisan
Baca Juga: Demi Mencintai, Mati Lampu Bukan Halangan
Read More

Kamis, 29 Oktober 2015

Demi Mencintai, Mati Lampu Bukan Halangan

GURUMUDA.WEB.ID --- SEDARI sore menjelang Maghrib dilakukan pemadaman listrik berjamaah. Hanya beberapa buah lilin saja yang bisa menerangi rumah kami yang dijadikan tempat pengajian anak-anak shift malam.

Beruntung saya punya anak-anak seperti mereka. Sebab mereka, jiwa ini terus diolah. Rasa cape setelah beraktivitas seharian di luar bukan alasan untuk libur mengasuh.

Beruntungnya mengasuh mereka, saya bisa mendapatkan do’a dari mereka. Apalagi ada dianatara mereka yang sudah tidak beribu atau berbapak. Ya. Dari mereka ada yatim piatu. Saya sangat meyakini ajaibnya sekumpulan do’a dari mereka, terlebih dari yatim.

Malam Jum’at memang rutinitas kami dengan kegiatan istighosah wa sholawah. Juga pembacaan sirah nabi dalam Kitab Syi’rul Hisan berbahasa Sunda huruf Pegon. Saya lantunkan dengan danding Pupuh Sinom. Selaras dengan suasana malam Jum’at (29/10) ini dengan kondisi mati lampu berjamaah. Anak-anak merasa dipepende dengan kisah nabi dengan lantunan pupuh.

Lokasi di tempat kami yang tepat di tengah sawah menambah suasana semakin khidmah dalam kecintaan kepada sang nabi. Lantunan shalawat dengan tabuhan hadroh marawis saling bersahutan dengan suara jangkrik yang sejak maghrib tadi sudah berzikir. Demi mencintai nabinya, mati lampu bukan penghalang untuk terus menyebut namanya. Penghulu para nabi dan rasul.

Do’a yang dipanjatkan bukan untuk kami saja, melainkan bagi sahabat kami yang selalu mencintai dan mendukung perjuangan kami membangun Pondok Kreatif & Pesantren Impian AsmaNadia yang akan dijadikan sebagai rumah inap yatim piatu dhuafa, pusat pembelajaran prestasi dan pendampingan kejar prestasi ini.

Sungguh…

Malam ini sangat berbeda dengan malam Jum’at sebelumnya. Bukan berarti setiap waktu memang berbeda, melainkan serasa ada angin segar yang bukan biasa mengelilingi kami.

Isak tangis anak-anak begitu menggetarkan jiwa-jiwa yang menghadiri majelis kecil ini. Apalagi bagi si pendosa ini. Saya ajak mereka kepada perjalanan mengingat mati.

“Bagaimana jika esok lusa ayah dan ibu kalian meninggal?”


Apa yang akan kalian lakukan. Kalian hanya bisa menangis dan menangis.

Anak Adam di dunia teh moal lila
Hiji mangsa urang teh baris teu aya
Lamun maot geus katanca anak Adam
Hamo aya nu bisa ngahalang-halang

“Ayolah... Sekarang kita manfaatkan waktu untuk bisa berbakti kepada orang tua, berbakti pula kepada guru-gurumu!”

Ingat anak-anakku…

“Jangan jadikan ke-yatim-an mu melemahkan semangat untuk menjadi manusia bermanfaat!”


Semoga pula nabi kita menolong kita dengan lautan kecintaan.


***


Lepas berdo’a sebagai penutup, keempat puluhan anak-anak menyusuri galengan sawah dalam kegelapan. Karena listrik belum juga menyala.

29 Oktober 2015
22.35 WIB

#PondokKreatifPesantrenImpian AsmaNadia
#AjaibnyaDoaYatim
#JumatBerkah

Read More

Selasa, 26 Mei 2015

Kisah Isra Mi’raj dalam Bait-bait Burdah

Peringatan Isra Mi'raj yang pertama Ma'had Nurul Musthofa, Hegarmanah. (2012)
Peristiwa Isra Mi'raj menjadi ujian bagi Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam maupun bagi umat akhir zaman. Dimana di masa Rasulullah SAW., beberapa orang yang lemah imannya kembali menjadi kafir. Mendustakan perjalanan nabi yang diisra dan dimi'rahkan. Mereka tidak memercayai perjalanan beliau shalallahu 'alaihi wa sallam di Mi'rajkan ke Sidratul Muntaha.

Di era digital seperti saat ini pun ketidakyakinan sebagian umat akan peristiwa Isra Mi'raj bukan berupa bantahan serta tantangan, melainkan keengganan untuk melaksanakan hasil utama perjalanan Isra Mi'raj, yaitu Shalat 5 waktu, dan ketidakmauan untuk mengambil hikmah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam diberi izin melihat surga dan neraka.

Kasidah Burdah merekam jejak dengan bait-bait yang sangat indah:

//engkau berjalan di waktu malam
dari satu tanah haram ke tanah haram lainnya
laksana rembulan yang sedang purnama
berjalan di kegelapan malam //

//semalam engkau naik
hingga sampai Sidratul Muntaha
yang tidak pernah terjangkau
dan tidak pernah dituju oleh siapa pun//

//sungguh merupakan kebahagiaan bagi kita
golongan kaum muslimin
karena kita dianugerahi agama
yang laksana sebuah pilar
yang tidak akan pernah runtuh
yakni ketika Allah memanggil penyeru kita untuk taat kepada-Nya
dengan panggilan, "Wahai Rasul Paling Mulia"
sehingga kita pun layak dipanggil, "Wahai umat akan yang paling mulia!"

//dibanding derajat yang telah engkau raih
semua derajat para nabi dan rasul menjadi rendah
karena engkau memang telah dipanggil
untuk naik ke sebuah tempat yang sangat terhormat
dan engkau pun beruntung
karena di sana engkau bisa bertemu
dengan sebuah rahasia
yang akan tetap tersimpan//

//di Sidratul Muntaha itu
seluruh nabi dan rasul mengajukan engkau
sebagai pemimpin mereka yang amat dihormati//

//ketika engkau jauh meninggalkan orang
yang ingin mendahului engkau dalam berjalan atau naik ke langit
ia tidak akan menyusul
lantaran engkau sudah meninggalkan langkah
barang sejengkal pun
untuk mengejar engkau//

***

Bait-bait Burdah di atas saya tulis ulang dari Alkisah Magazine.
Read More