Tampilkan postingan dengan label Guru Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guru Menulis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2016

Kenali Profil Penulis Buku "GURU KREATIF DI ZAMAN DIGITAL"

GURUMUDA.WEB.ID - - Workshop Teacher Writing Camp 5 membuktikan bahwa pelatihan ini  melahirkan para peserta yang produktif. Salah satu dari hasil pelatihan tersebut adalah terbitnya buku karya dari para peserta dari bebagai daerah di Indonesia. Berikut beberapa profil para Penulis Buku "GURU KREATIF DI ZAMAN DIGITAL"

Anita Kusmira
Lahir di Pasaman 10 April 1988. Sejak kecil bercita-cita sebagai guru. Keseharian sederhana dan mudah bergaul menjadikan saya memiliki banyak teman. Saya hari ini adalah bantuan dan do’a dari orang-orang yang mencintai saya.


Triawati Agusnila
Lahir di Purbalingga, 3 Agustus 1979 sebagai anak ketiga dari lima bersaudara. Saat ini terus mendedikasikan diri berbagi ilmu bersama anak bangsa di SMA N 1 Bobotsari, Purbalingga, Jawa Tengah. Di tengah kesibukan juga sebagai istri dan ibu dari 3 malaikat kecil Azrinas Rafa Purnama, Hibatullah  Zayyan Purnama dan Mahanna Afan Purnama.
Mempunyai mimpi ingin menaklukkan dunia dengan menulis. Tak ada yang tak mungkin jika kita berusaha. Insya allah segala perjuangan akan sampai pada ujungnya.

Harum Mulia Hati Wijaya, ST
Lahir di Grobogan, 26 Juni 1982. Kesibukan sehari-hari sebagai guru di TK Cendekia Genuk Indah, sekaligus sebagai Kepala Sekolah serta Pengelola Yayasan Fasatalya Cendekia yang beralamat di  Jl. Kapas Utara Raya F. 823 Genuk Indah Semarang.

Juga sebagai guru bagi kedua putrinya yang bernama Alya Labibah Hanavi dan Bernice Farzana Hanavi. Diaman dalam mendidik selalu berprinsip dengan Learning by doing. Dan mendidik harus selalu dengan rasa senang, tidak karena terpaksa.

Atjih Kurniasih
Lahir di Kuningan, 11 Oktober 1962. Menyelesaikan pendidikan D2 di IKIP Jakarta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendididkan, Jurusan IPS (1983 - 1985). Telah menyelesaikan S1 Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Suryakancana Cianjur pada tahun 2008.

Sejak 1986 hingga saat ini berkarier sebagai pengajar di bidang studi IPS. Tahun 1986 - 1989 karir sebagai pengajar diawali di SMPN Lebak Wangi. karena alasan keluarga, maka sejak tahun 1989 menjadi pengajar di SMPN 1 Cipanas, hingga saat ini.

Kegemarannya menuis sudah digeluti sejak SMP. Buku diary atau buku catatan hariannya menjadi tempat untuk menuangkan semua ide-idenya.
Pada tahun 2013 mulai menulis di blog. Baik blog pribadi ataupun keroyokan semacam Kompasiana dan Guraru. Namun, tulisannya lebih banyak dituangkan di blog pribadinya.

Blog pribadi yang sebahagian besar menceritakan tentang pengalaman kesehariannya sebagai pengajar. Bagi penulis, anak didiknya merupakan sumber tulisan yang tiada habisnya.

Di tahun 2013, mengikuti Teacher Writing Camp 3 (TWC 3) yang diadakan oleh Ikatan Guru Indonesia. Yang mengantarkan dirinya memenangkan beberapa lomba menulis di blog, diantaranya:
1. Juara I Lomba blog dalam rangka Hari Guru Nasional 2014
2. Pemenang tantangan ngeblog oleh Komunitas Sejuta Guru Ngeblog (KSGN) 2015

Read More

Rabu, 30 Desember 2015

Guru Kampung yang Nggak Kampungan

GURUMUDA.WEB.ID - - KATA MUTIARA dari Menteri Pendidikan Dasar & Menengah dan Kebudayaan, Anies Baswedan ini mewakili impian saya ke depan. Bathin mengamini untuk segera memantapkan diri fokus saja mengasuh dan mendidik anak-anak kampung. Mereka yang setiap sore sampai malam belajar mengaji dari si pendosa ini. sebagian dari mereka adalah anak-anak yang diabaikan oleh bapaknya, bahkan ada yang tak beribu bapak.

“Lokasi belajar boleh di kampung,
tapi standar tidak boleh kampungan”
(Anies Baswedan)


Ada dorongan kuat pada diri saya,
“Saya harus menjadi ayah sekaligus guru bagi mereka!”

Tak terbayang bagaimana perasaan Farhan (bukan nama sebenarnya) yang hampir tiga belas tahun tidak bertemu dengan bapaknya. Ditinggalkan begitu saja ketika ia berusia beberapa bulan saja di dunia. Jelas-jelas diabaikan.

Atau Yanto, anak kelas enam yang belum fasih membaca abjad. Saat ini tinggal bersama kakek neneknya yang pemulung. Ditinggal mati bapaknya karenaa tertabrak kereta api.

Karena anak-anaklah saya lebih memantaskan diri untuk menjadi guru kampung saja. Tentunya menjadi guru kampung yang nggak kampungan. Mengasuh dan mendidik dengan mengolaborasikan pembelajaran kreatif dan pengimbang zaman.

Sangat disadari, saya sudah muak kalau harus berurusan dengan birokrasi yang pintar main ‘game’ offline. Banyak sekali permainan yang berpedoman “uang adalah segalanya”.

Ah, rasanya saya pengin cepat-cepat hengkang saja jadi guru formal.

Sok idealis. Benar. Idealis untuk masalah seperti ini sangat wajar bagi orang seperti saya.  Yang tak mau ikut ke dalam lingkaran setan. Toh, masih banyak rezeki di luar sana. Jadi trainer, misalnya. Yang penting tidak jauh dengan dunia pendidikan. Karena pendidik sudah menjadi passion bagi saya. Apalagi yang menguatkan, ayah saya seorang pendidik juga.

Guru Kampung yang Nggak Kampungan. Kenapa nggak?

Read More

Jumat, 25 Desember 2015

Satu Buku Sebelum Pikun

GURUMUDA.WEB.ID  -- Bersyukur dapat hadiah KEJUTAN dari Komunitas Sejuta Guru Ngeblog (KSGN), bisa mengikuti pelatihan menulis paling bergengsi akhir tahun ini. TEACHER WRITING CAMP 5.

Tambah terkejut lagi para pesertanya adalah guru-guru hebat dari sekolah masing-masing. Ada yang dari Semarang, Solo, Cirebon, Garut dan kota lainnya.

Saya dapati tujuan event paling bergengsi di akhir tahun ini adalah"untuk menginspirasi peserta menjadi guru yang BEDA."

Benar sekali. Menurut Pak Dedi @dwitagama,  fakta dari 3 juta guru, cuma sedikit yang hebat.

Nah, diantara yang minoritas itu adalah guru yang sebagai penulis. Dua profesi yang berbeda.

Ya, karena bisa jadi pekerjaan kita saat ini belum tentu menjadi karir masa depan. Profesi sebagai PENULIS sangatlah beruntung. Karena dengan menulislah, semua cita-cita bisa diraih. Mau jadi Dokter? Menulislah tokoh seorang Dokter, yang berkacamata, ganteng, ya nggak jauh sama yang nulis ini.

Tapi, jangan salah! 

Menulis ada karena Membaca.Dengan membaca, sel-sel otak mengajak untuk selalu aktif. Bila didiamkan, jangan salahkan bila otak berkarat. PIKUN.

Maka, Satu Buku Sebelum Pikun adalah cara tepat untuk menjadi pribadi bermanfaat.

***Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis di Sosmed sesi-1 ‪#‎TeacherWritingCamp5
Read More

Rabu, 02 Desember 2015

Ikuti Pelatihan Menulis Paling Bergengsi di Indonesia

GURUMUDA.WEB.ID - - SUDAH saatnya Anda sebagai guru memantaskan diri menjadi guru multitalenta. Tidak hanya pintar mengajarkan anak didik menulis, tetapi Anda pun harus bisa menjadi guru yang juga menulis.

Tentu saja, bagi guru masih sering 'gagap' ketika ditanya tentang kebiasaan menulis. Sebagian besar guru tidak menyempatkan menulis barang lima menit saja. Padahal menulis menjadi alat rekam yang ajaib dari setiap kejadian.

Inilah saatnya, bagi Anda sebagai guru untuk mengikuti Pelatihan Menulis yang Paling Bergengsi di Indonesia.

Teacher Writing Camp atau disingkat dengan TWC adalah sebuah acara Pelatihan Menulis bagi guru seluruh Indonesia. Tahun 2015 menjadi Teacher Writing Camp yang ke-5. Tentu saja, konsep pelatihan yang dilaksanakan selama 3 hari 2 malam ini diharapkan melahirkan penulis-penulis produktif di kalangan guru.

Baca Juga:


Setiap tahunnya TWC Selalu menghadirkan para pembicara terkenal seperti  Pipiet Senja, Ahmad Fuadi,  Hernowo Hasim, J Sumardianta dan penulis lainnya. Untuk TWC5, pihak panitia berencana akan menghadirkan Fahd Pahdepe, Penulis Buku Rumah Tangga.

Teacher Writing Camp dilaksanakan oleh Komunitas Sejuta Guru NgeBlog (KSGN) sebuah organisasi sosial yang dikelola oleh para guru dan aktivis pendidikan di Indonesia.

Bagi Anda yang ingin lebih tahu apa itu Teacher Writing Camp, bisa diakses DI SINI
dan untuk melihat Jadwal Acara bisa juga diakses DI SINI
Read More

Kamis, 29 Oktober 2015

Demi Mencintai, Mati Lampu Bukan Halangan

GURUMUDA.WEB.ID --- SEDARI sore menjelang Maghrib dilakukan pemadaman listrik berjamaah. Hanya beberapa buah lilin saja yang bisa menerangi rumah kami yang dijadikan tempat pengajian anak-anak shift malam.

Beruntung saya punya anak-anak seperti mereka. Sebab mereka, jiwa ini terus diolah. Rasa cape setelah beraktivitas seharian di luar bukan alasan untuk libur mengasuh.

Beruntungnya mengasuh mereka, saya bisa mendapatkan do’a dari mereka. Apalagi ada dianatara mereka yang sudah tidak beribu atau berbapak. Ya. Dari mereka ada yatim piatu. Saya sangat meyakini ajaibnya sekumpulan do’a dari mereka, terlebih dari yatim.

Malam Jum’at memang rutinitas kami dengan kegiatan istighosah wa sholawah. Juga pembacaan sirah nabi dalam Kitab Syi’rul Hisan berbahasa Sunda huruf Pegon. Saya lantunkan dengan danding Pupuh Sinom. Selaras dengan suasana malam Jum’at (29/10) ini dengan kondisi mati lampu berjamaah. Anak-anak merasa dipepende dengan kisah nabi dengan lantunan pupuh.

Lokasi di tempat kami yang tepat di tengah sawah menambah suasana semakin khidmah dalam kecintaan kepada sang nabi. Lantunan shalawat dengan tabuhan hadroh marawis saling bersahutan dengan suara jangkrik yang sejak maghrib tadi sudah berzikir. Demi mencintai nabinya, mati lampu bukan penghalang untuk terus menyebut namanya. Penghulu para nabi dan rasul.

Do’a yang dipanjatkan bukan untuk kami saja, melainkan bagi sahabat kami yang selalu mencintai dan mendukung perjuangan kami membangun Pondok Kreatif & Pesantren Impian AsmaNadia yang akan dijadikan sebagai rumah inap yatim piatu dhuafa, pusat pembelajaran prestasi dan pendampingan kejar prestasi ini.

Sungguh…

Malam ini sangat berbeda dengan malam Jum’at sebelumnya. Bukan berarti setiap waktu memang berbeda, melainkan serasa ada angin segar yang bukan biasa mengelilingi kami.

Isak tangis anak-anak begitu menggetarkan jiwa-jiwa yang menghadiri majelis kecil ini. Apalagi bagi si pendosa ini. Saya ajak mereka kepada perjalanan mengingat mati.

“Bagaimana jika esok lusa ayah dan ibu kalian meninggal?”


Apa yang akan kalian lakukan. Kalian hanya bisa menangis dan menangis.

Anak Adam di dunia teh moal lila
Hiji mangsa urang teh baris teu aya
Lamun maot geus katanca anak Adam
Hamo aya nu bisa ngahalang-halang

“Ayolah... Sekarang kita manfaatkan waktu untuk bisa berbakti kepada orang tua, berbakti pula kepada guru-gurumu!”

Ingat anak-anakku…

“Jangan jadikan ke-yatim-an mu melemahkan semangat untuk menjadi manusia bermanfaat!”


Semoga pula nabi kita menolong kita dengan lautan kecintaan.


***


Lepas berdo’a sebagai penutup, keempat puluhan anak-anak menyusuri galengan sawah dalam kegelapan. Karena listrik belum juga menyala.

29 Oktober 2015
22.35 WIB

#PondokKreatifPesantrenImpian AsmaNadia
#AjaibnyaDoaYatim
#JumatBerkah

Read More

Selasa, 25 Agustus 2015

Rahasia Menjadi Guru Blogger yang Sukses

GuruMuda.web.id - - - Beruntung saya bisa menjadi salah satu dari jutaan orang yang berprofesi sebagai guru. Tambah beruntung lagi ketika saya termasuk dari sekelompok guru yang juga senang ngeblog. Kesenangan membaca dan menulis, maka terciptalah beberapa blog yang menjadi ruang belajar dan berbagi di dunia maya.

Dari segelintir guru yang ngeblog, tentunya sangat sedikit guru blogger yang terbilang sukses. Maka, menjadi seorang yang pembelajar saya terus menggali, belajar, mempraktikkan ilmu dari guru-guru blogger yang sudah sukses menurut saya. Diantara guru blogger itu salah satunya Bapak Namin AB Ibnu Solihin.

Menarik dengan artikel salah satu postingannya yang berjudul Membuat Konten Kreatif di Blog. Secara gratis Pak Namin membagikan materi itu dalam acara e-learning untuk rakyat bersama Pak Onno W Purbo dan Pak Satria Dharma di Gedung Telkom Jakarta Utara.

Tak menyia-nyiakan kesempatan ini, saya pun segera mengunduhnya. Namun, sayang tidak dijelaskan secara mendetail isi dari materi tersebut. Saya pun tersadar, “Materi Presentasi yang Baik adalah Singkat, Padat dan Jelas.”

Maka, tak salah kiranya jika saya menjelaskan tentang Bagaimana Rahasia Menjadi Guru Blogger yang Sukses yang ada dalam materi Pak Namin tersebut, tentunya menurut versi saya.

Lalu, Apa Rahasia Menjadi Guru Blogger yang Sukses?

Pertama, Membangun Budaya Literasi

Literasi di sini berarti keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca, budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya. Membudayakan atau membiasakan untuk membaca, menulis itu perlu proses jika memang dalam suatu kelompok masyarakat kebiasaan tersebut memang belum ada atau belum terbentuk. (Trini Haryanti)

Alhamdulillah, saya sedikit bisa di dunia desain grafis menggunakan CorelDRAW atau Photoshop. Di blog Guru Muda ini ada kategori EduDesign, dibuat sebagai wadah saya untuk berkarya di bidang desain atau berbagi seputar desain grafis.

Memang yang saya rasakan, butuh keuletan untuk bisa CorelDRAW ataupun Photoshop. Butuh imajinasi juga sebagai nilai tambah. Intinya mau nggak kita belajar?
Salah satu artikel EduDesign


Ketiga, Rajin Blog Walking

Bagi seorang blogger, sangatlah tidak asing dengan istilah Blog Walking atau sering disingkat BW. 

BW sendiri adalah berkunjung ke blog orang lain. Bisa juga BW adalah silaturahmi. Menyambungkan persaudaraan sesama blogger. Tidak hanya berkunjung, tapi ada interaktif dengan selalu memberikan komentar atas artikel yang kita baca.
Saya sedang BW di blog wijayalabs.com, tak lupa berkomentar
Keempat, Open Minded

Ya. Berwawasan luas. Ini sangat berhubungan sekali dengan literasi (membaca dan menulis). Dengan sering membaca, pembendaharaan kata akan bertambah. Dengan membaca pula kita akan tahu kelemahan dan kelebihan dari apa yang kita baca. Termasuk dengan tulisan yang sedang rekan Guru Muda baca ini. 

Berwawasan luas harus siap menjadi pembelajar sejati. Ingin terus belajar. Sesuai dengan salah satu hadist, "Utulubul 'ilma minal mahdi ila lahdi" ini perintah untuk menuntut ilmu mulai dari buaian hingga bersiap ke liang lahad.

Berwawasan luas pun harus siap untuk menerima kritikan dan saran dari orang lain. Menghilangkan sifat egois yang bukan pada tempatnya. 


Banyak komunitas blogger di dunia maya. Salah satunya Komunitas Sejuta Guru Ngeblog atau KSGN. Ada sekitar 15.000 guru lebih yang sudah bergabung di KSGN ini. Dengan bergabung di komunitas banyak sekali manfaatnya. Diantaranya, keempat Rahasia Menjadi Guru Blogger yang Sukses di atas akan tercapai.



Bagaimana?

Siap Menjadi Guru Blogger yang Sukses?


Salam Ta'dzim
Guru Muda | Yusron Fauzi

Read More

Kamis, 30 Juli 2015

Inilah Presiden 7A MTs IQRO Leles Garut

GuruMuda.web.id - - Pertama kali masuk di kelas 7 A MTs IQRO Leles sangat luar biasa. Ketika saya mendampingi anak-anak kelas  7 A untuk pemilihan ketua kelas, mereka sangat siap menjadi pemimpin.

“Siapa yang mau menjadi ketua kelas?”
“Saya, Pak!” sambut salah satu siswa baru.
“Ya. Siapa nama kamu?”
“Wildan, Pak”

Maka, terpilihlah calon ketua kelas yang akan mempresenetasikan visi misi mereka kalau terpilih menjadi pemimpin di kelas 7 A. Ada Wildan, Ridwan, Rahman, Ari Sri, Wulansari, dan Nisa.

Ada diantara mereka yang mengusulkan, namanya jangan ketua kelas.

“Lalu apa?” pancing saya.
“Presiden aja, Pak!”

Saya pun mengiyakan.

Calon presiden kelas 7A pun mempresentasikan visi misi mereka.
"Jika saya menjadi presiden kelas 7 A, saya akan menjadikan kelas 7A sebagai kelas yang unggul dan berprestasi," ujar Ari Sri Mulyani dalam orasinya.
"Kelas 7A akan lahir-lahir siswa-siswi yang hebat. Saya yang akan menjadi terdepan," lanjut Wildan.
Dilanjut dengan calon presiden yang lainnya.
Calon Presiden Kelas 7A sedang orasi.




Para pemilih dibuat bingung karena calon presiden mereka memiliki kualitas yang sangat baik. Karena diantara calon presiden ada yang pernah menjadi siswa teladan di sekolah asalnya.

Saking bingungnya, ada diantara pemilih yang menulis nama bukan calon presiden mereka, malah menulis dengan kata "BINGUNG."

Akhirnya keputusan harus diterima dengan terpilihnya, Ari Sri Mulyani menjadi Presiden Kelas 7 A MTs IQRO Leles Garut.

Ari Sri Mulyani, Presiden Kelas 7A terpilih

Read More

Minggu, 19 Juli 2015

Ilmu Berkah, Cari Ridha Guru

GuruMuda.web.id --- ILMU menjadikan kualitas seorang hamba berbeda satu sama lain. Ilmu yang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Pantaslah Allah Ta'ala memberikan predikat istimewa bagi orang-orang yang berilmu. Yakinlah akan janji Allah yang akan memberikan derajat kemulyaan yang sangat tinggi bagi mereka pencari ilmu.

Namun, dengan ilmu pula seorang hamba akan menuai kecelakaan. Ilmu tanpa amal. Ilmu yang tidak berkah. Na'udzubillah.

Lantas bagaimana meraih ilmu yang berkah?


Ilmu yang berkah bukan ilmu yang banyak. Meskipun ilmu yang sedikit, bila dimanfaatkan itu salah satu tanda ilmu yang dinaungi keberkahan. Bagi pencari ilmu sejati, keberkahan ilmu adalah do'a yang sering digadang-gadangkan setelah mendo'akan orang tua.

Sekedar tahadust bi ni'mah, semoga ilmu yang saya dapat pun mendapatkan keberkahan. Selepas saya mondok di beberapa pesantren. Hanya secuil ilmu yang bisa saya dapatkan dari guru-guru mulia. Jadwal kajian ba'da Dhuha  sering tidak saya ikuti sepenuhnya. Apalagi saya sering terlambat masuk kelas. Ketiduran selepas sorogan (setoran baca kitab kuning)  ba'da Shubuh. Karena malamnya ikut Pangersa Kyai ta'lim di beberapa daerah. Atau masih mengerjakan tugas beres-beres; ngepel dan nyapu di  rumah Kyai.

Untuk urusan keilmuan, terus terang saya terlalu dangkal bila dibanding dengan sahabat santri lain. Ada dari mereka sudah hafal Nadzham Alfiyah yang isinya lebih seribu bait. Atau hafal hadist, minimal Hadist Arba'in. 

Ilmu yang Sedikit itu begitu Berkah


Saya begitu meyakini "Berkah Ilmu tergantung sejauh mana guru ridha." 
Ya. Saya begitu merasakannya. Ilmu yang sedikit ini begitu terasa manfaat ketika diamalkan oleh sendiri dan juga bisa berbagi dengan anak-anak. Mungkin ini berkah berkhidmah (membantu) Kyai. Sering saya rasakan kenikmatan yang luar biasa, manakala memijit Kyai. Saya bisa meringankan penatnya aktivitas sehari-hari Kyai yang begitu padat dengan rutinitas pengajiannya. 


Saya (kanan) bersama guru mulia, KH. Fahruddin bin Ghozali (tengah) dan sobat saya (kiri)

Terkadang, ada satu hari jadwal Kyai sampai lima tempat. Itu pun bukan jarak yang dekat. Dari Sumedang menuju Kuningan, balik ke Majalengka dan berakhir di Sumedang lagi. Hebatnya Kyai, beliau tak memperlihatkan lelahnya. Justru sebaliknya, beliau begitu bersemangat untuk urusan dakwah. 

Semoga Allah terus memberkahi ilmu kepada saya, sebab saya mencari keridhaan dari guru-guru mulia. [***]

Salam Ta'dzim,

Guru Muda

Read More

Selasa, 14 Juli 2015

Berkah itu Ketika Tafaruqon Pesantren Ramadhan dihadiri Guru Blogger Indonesia

GURUMUDA.WEB.ID- - - Bagi saya dan juga guru blogger lainnya, sudah tak asing lagi dengan blogger yang satu ini. Pria tambun yang aktif sebagai blogger dan sebagai trainer. Wijaya Kusumah atau biasa disapa Om Jay. Sungguh di luar dugaan, acara Tafaruqon Pesantren Ramadhan yang dilaksanakan pada tanggal 25 Ramadhan 1436 H atau tepat pada tanggal 12 Juli 2015 ini dihadiri tamu istimewa dari Bekasi.

Awalnya Om Jay yang sebagai pendiri Komunitas Sejuta Guru Ngeblog (KSGN) menulis status di akun Facebooknya:

"Suasana i'tikaf di masjid tarbiyah kampung bojong wanaraja garut. Ceramah bisa dilihat lsg di youtube."



Tidak bisa saya sia-siakan kesempatan ini. Langsung saya komentari status beliau untuk menyempatkan waktu singgah di Rumah Baca Asma Nadia Garut yang saya asuh. Jarang-jarang guru yang super sibuk itu punya waktu luang. Akhirnya kami berkomunikasi lewat inbox facebook dan juga sms. Alhamdulillah, Om Jay bisa juga berkunjung ke rumah yang sangat sederhana di tengah sawah ini.



Om Jay Bilang Pesantren Mewah
Pemandangan di Pesantren Mewah

Tiba di lingkungan Rumah Baca sekitar pukul 14.30 WIB, selaku pribumi saya tidak bisa memberikan hidangan seperti pribumi biasanya. Maklum, ini Ramadhan (masa iya saya ngasih es buah siang-siang, bisa-bisa Om Jay bocor shaumnya. He... he...)

Saya tangkap dari raut wajahnya, meskipun cape, ada guratan kebahagiaan melihat anak-anak yang sedang mengikuti tafaruqon.
“Ini memang Pesantren Mewah!” kata beliau.
“Wah, ini sih nyindir...” batin saya.
“Maksudnya apa, Om? Kan pesantrennya belum jadi?” bingung saya.
“Ini Pesantren MEWAH. Pesantren mepet-mepet sawah...” kami tersenyum. Saya tidak menyangka selera humor beliau lumayan juga.

Blogger Guru Garut


Sempat kami berdiskusi lumayan lama seputar pendidikan, khususnya urusan guru yang senang ngeblog. Saya konsultasi dengan beliau, bagaimana caranya membangkitkan semangat ngeblog buat guru-guru yang ada di Garut. Karena setahu saya guru yang ada di Garut belum begitu tahu manfaat dari sebuah blog. 

Ini terlihat dari kurangnya aktivitas guru Garut di grup Facebook KSGN. Padahal KSGN bisa dijadikan tempat belajar bagi guru Garut untuk ngeblog. Apalagi visi KSGN menjadi  Komunitas Blogger terbesar di Indonesia pada tahun 2020 dengan Gerakan NgeBlog dan Menulis setiap hari dalam rangka meningkatkan kualitas Pendidikan Indonesia.

Om Jay mencoba memberikan solusi dan mengusahakan untuk memotivasi guru yang ada di Garut. Beliau sudah berdiskusi dengan seorang dosen STKIP Garut. Om Jay pun memberikan tugas kepada saya untuk mencari pihak/sponsor untuk diadakan Pelatihan Ngeblog untuk Guru Garut.

Om Jay Wakili Donatur Memberikan Santunan Kepada Yatim Piatu Dhuafa


Mumpung ada tamu istimewa, saya mendapuki Om Jay untuk memberikan santunan mewakili donatur yang telah memberikan donasinya entah berupa barang ataupun uang. 

Santunan berupa uang dan juga paket lebaran itu diberikan untuk anak-anak Yatim Piatu Dhuafa binaan saya. Alahmdulillah, semoga saya bisa istiqamah menjadi fasilitator kebaikan buat mereka anak-anak.

Guru Blogger itu Ternyata Hafal Surat An Naba

Om Jay Sedang Mengetes Santri Hafiz Juz 30

Siapa dinyana, ternyata Founder KSGN seperti Om Jay mampu menghafal Surat An Naba yang jumlahnya 40 ayat itu. Buktinya, Om Jay mencoba kemampuan anak-anak santri.

“Siapa yang sudah hafal Juz 30?” kata Om Jay
Di barisan belakang, ada seorang anak perempuan yang mengacungkan tangan.

“Saya, Om!” sambil maju ke panggung, anak yang bernama Ari Sri Mulyani itu mendekati Om Jay.

“Coba bacakan Surat An Naba!”

Dengan fasehat Ari Sri menjawab tantangan Om Jay. Selepas khatam di ayat 40, Om Jay mengeluarkan sesuatu di dompetnya, beliau memberikan hadiah.

Semua girang. Alhamdulillah.

Sebelum Om Jay meninggalkan kami. Beliau memberikan motivasi.
“Semoga kalian menjadi penghafal-penghafal Al Qur’an. Karena Al Qur’an yang kalian baca akan menjadi penolong bagi kalian kelak!” tuturnya.
Read More

Rabu, 01 Juli 2015

Ketika Daffa Memelukku

GURUMUDA.WEB.ID - - DIANTARA ratusan siswa IQRO, ia duduk di shaf paling depan dengan kopiah dan gamis serba putih. Ketika kusebutkan namanya, ia langsung berdiri dan maju ke depan. Berkumpul dengan sembilan anak-anak yang kusebutkan sebelumnya.

Kalau saja ketua yayasan tidak menyuruhku untuk medata anak yatim piatu binaan Lembaga Pendidikan IQRO, bisa jadi saja aku tak mengenal anak itu. Ketua yayasan memintaku untuk mendata sepuluh anak-anak yang tak beribu bapak.
Tak kuasa aku menahan tangis bila berhadapan dengan mereka yang tak beribu bapak.
Diantara mereka, Daffa Harsya, kelas 2 MI (sederajat SD), ia piatu – sudah tak beibu -. Ketika aku tanya, “Apakah kau rindu dengan ibumu, Nak?”
Ia tak menjawab. Hanya bisa memelukku. Mencari perlindungan. Mencari kehangatan seorang ibu. Aku yang tepat di sampingnya menjadi pusat pelampiasan kerinduan pada ibunya. Ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Sungguh, begitu kuat pelukannya padaku menandakan ia sangat rindu dengan ibunya.
Aku hanya bisa mengelus, menenangkannya. Entah apa yang ada di benak Daffa. Yang pasti aku begitu merasakan ia ingin ibunya kembali. Memeluknya. Menyuapinya. Mengantarkannya ke sekolah. Meskipun hal itu tak akan pernah terjadi.
“Daffa ingin ibu!” begitu kuat yang aku rasakan dalam kontak bathiniyah.
Read More

Kamis, 28 Mei 2015

Blog Guru Review: PancingKehidupan.com Kumpulkan Opini Media Massa di Blog

GURUMUDA.WEB.ID - Jarang sekali guru yang aktif menulis dan mengirimkan ke media massa. Guru-guru lebih memilih bahkan dianggap lebih percaya diri menulis di blog pribadi saja ketimbang harus dikirimkan ke media massa (koran, majalah, tabloid, dll).

dok: Ramdan Hamdani
Berbeda dengan guru yang satu ini, Ramdan Hamdani biasa disapa Kang Dadan pemilik blog www.pancingkehidupan.com cukup terkenal di media cetak, terlebih koran Pikiran Rakyat atau Republika.

Tulisannya yang berbobot mampu merekam jejak pena di media berbasis kertas itu. Tentu saja tema yang diangkat adalah tentang pendidikan. 

Apalagi visinya adalah mengampanyekan pendidikan yang berkualitas dan aktif dalam upaya menciptakan penggunaan teknologi informasi untuk keperluan pendidikan.

Ada puluhan artikelnya yang telah memuat karya guru SDIT Alamy Subang ini. Sungguh luar biasa. 

Kesibukan mengajar bukan menjadi alasan untuk terus menulis dan memberikan pencerahan bagi khalayak, termasuk bagi guru sendiri.

Baca juga:
AGUPENA: Wadahnya Guru Penulis Indonesia 
Opini Guru Muda: Upaya Kolaboratif Perpustakaan Sekolah

Baiklah, bagi rekan-rekan guru yang pengin tahu lebih luas bagaimana tulisannya yang sering dimuat di media massa, silakan berkunjung  ke blog Pak Guru yang senang menulis ini.

Read More

Sabtu, 23 Mei 2015

Kampung Cerdas Kampung Membaca dengan Perpustakaan Berbasis Pesantren

GURUMUDA.WEB.ID -- Sesungguhnya masyarakat di daerah memiliki banyak potensi dari segi Sumber Daya Alam (SDA) dan juga Sumber DayaManusia (SDM). Namun, faktanya di daerah belum banyak potensi yang dimunculkan. 

Salah satu kendalanya adalah belum terjamahnya perpustakaan atau taman bacaan di setiap kampung. Fakta ini sangat dimaklumi dikarenakan paradigma masyarakat di daerah, masih minim akan pentingnya membaca.
Atas dasar keprihatinan inilah penulis merasa bertanggung jawab untuk ikut memajukan potensi daerah di Jawa Barat. Sudah selayaknya potensi daerah diberdayakan.
Dengan Gerakan Kampung Cerdas Kampung Membaca dengan Perpusatakaan Berbasis Pesantren diharapkan akan menjadi solusi bagi masyarakat untuk memunculkan potensi SDA dan SDMnya.
Berbeda dengan perpustakaan yang ada. Yang hanya memakukan diri menunggu pengunjung (masyarakat) untuk membaca dan meminjam buku. Tidak demikian dengan Rumah Baca Asma Nadia Garut, taman bacaan ini terjun secara langsung ke tengah-tengah masyarakat. 

Dengan melakukan kegiatan-kegiatan penunjang, seperti santunan paket pendidikan untuk yatim piatu dhuafa, pendampingan kejar prestasi, life skills: pelatihan komputer, sablon, dll.
Tak hanya itu, pendidikan agama dengan pola pesantren pun diterapkan. Kita sepakat bahwa lulusan pesantren dipercaya masyarakat menjadi kader-kader penggerak kemajuan. Apalagi pendidikan pesantren lebih mengedepankan kepada akhlak (perbaikan karakter). 
Dengan ini maka kolaborasi antara kecakapan hidup dan agama, perpustakaan berbasis pesantren akan mampu membangun Kampung Cerdas Kampung Membaca.
Read More

Hati-hati Menghukum Anak

Oleh: Roni Yusron Fauzi
“Saya mau pindahkan saja, Pak!”
Tiba-tiba salah seorang orang tua siswa datang ke rumah saya dengan nada emosi yang tak terelakan.
*** 
Anaknya berbeda dengan kebanyakan. Ia anak special, agak lambat untuk menangkap materi. Ketika anaknya duduk di kelas II, orang tuanya sengaja meminta kepada pihak sekolah supaya tidak dinaikkan. Tahun ajaran baru, si anak dinaikkan ke kelas III meskipun agak dipaksakan. Sudah dipastikan guru kelasnya pun berganti. 

Guru kelasnya belum memahami benar kondisi anak ini yang sangat lambat memahami sesuatu. Juga belum paham bagaimana selayaknya memperlakukan seperti anak special satu ini. Guru kelas memperlakukan kemampuan anak di kelasnya sama. 

Setelah saya menanyakan permasalahannya. Ternyata anaknya dicubit berbekas oleh guru kelasnya. Ini serius, menurut saya. Harus dilaporkan kepada kepala sekolah untuk menegur guru bersangkutan. Saya mencoba mencari solusi yang terbaik untuk semua pihak. 

Hukuman pada anak sah-sah saja selama tidak mencederai atau menimbulkan bekas fisik. Tentunya dengan tujuan supaya anak menjadi lebih baik. Bukan sebaliknya, psikis anak rusak gara-gara tindakan yang seharusnya tak perlu dilakukan oleh guru. 

Dengan alasan mendidik, serta merta guru dengan sebebasnya menghukum tanpa dipikirkan bagaimana perkembangan anak ke depan. 

Menghukum dengan Hati

Adakah menghukum anak dengan hati? Menurut pandangan saya jelas ada. Tentunya dengan hati yang bersih. Saya sering mendengar kisah bagaimana didikan orang tua pendahulu. Yang dengan tegas mereka menggembleng muridnya, bahkan dengan ‘memukul’ sekalipun. Tapi, mereka melakukannya dengan hati. Ikhlas. Tidak dikotori dengan hawa nafsu karena amarah. Bukan pula kesal karena ilmunya tidak bisa cepat diserap para murid.

Mereka guru ikhlas menghukum dengan hati, maka tidak mengherankan bila murid tank menyimpan rasa dendam pada sang guru. Pola seperti ini kurang cocok lagi diterapkan di era seperti ini yang sudah sangat berbeda. Apalagi undang-undang perlindungan anak semakin diperketat.

Lakukan Pendekatan

Menjadi vital bagi seorang guru melakukan pendekatan kepada murid. Pendekatan secara emosional maupun spiritual. Sudah barang tentu ketika emosional antara guru dan murid erat, harapan memiliki murid yang lebih baik akan cepat tercapai. Dibantu dengan pendekatan spiritual, selalu menyisipkan doa untuk anak didiknya.

Read More

Selasa, 19 Mei 2015

Kenapa Harus Menitipkan Anak di RUMBI?

GURUMUDA.WEB.ID - Alhamdulillah, setiap hari selalu saja rumah saya didatangi tamu. Kalau bukan orang tua, ya pasti anak-anak yang ikut mengaji 'a ba tsa'.

Banyak keberkahan selama mereka ada di rumah. Benarlah adanya, jika rumah yang sering disinggahi tamu, yakin datang bersama rezekinya.

Tiap sore, anak-anak belajar mengaji: tahsin Qur'an, tahfiz, kitab kuning, dll. Usia mereka beragam, mulai dari 4 tahun sampai usia anak SMA.

Cukup menguras tenaga dan pikiran juga untuk menerapkan pola pembelajaran seperti apa yang harus digunakan. Sementara, kebanyakan saya menerapkan kurikulum secara kondisional dan mandiri. Artinya, disesuaikan dengan bagaimana situasi dan kondisi yang ada. Lebih ke improvisasi. Saya akui, jelas ini sebagai kelemahannya.

RUMBI itu...

Ada salah seorang orang tua santri yang anaknya masih berumur 4 tahun. Tiap sore ia harus dengantarkan anaknya mengaji ke rumah saya dengan jarak yang cukup jauh, karena berbeda Kampung. Sering pula ketika hujan, ia harus rela mengantar anaknya mengaji. Jalan yang licin, karena harus melewati pematangan menjadi perjuangan demi sang anak pintar mengaji.

Suatu hari, ia meminta saya untuk membuka jam belajar khusus buat anaknya di pagi hari, sekitar jam 9-an. Setelah bermusyawarah dengan istri, kami pun mengiyakan
Maka, dibukalah jam belajar pagi buat Denta, anak santri yang berumur 4 tahunan itu.
Read More

Rabu, 31 Juli 2013

Guru Muda Blusukan Bada Sholat Taraweh

GURUMUDA.WEB.ID - Barusan ba'da tarawih saya survey ke keluarga yatim. Mereka anak kembar: Rohmat Ginanjar (Aa) & Rahmat Faisal (Dede). Aa kini duduk di SMA kelas I, sementara Dede tidak melanjutkan karena tidak ada biaya. Namun, Dede ingin sekali melanjutkan ke pesantren. Untuk mengisi waktu, kini Dede membantu jualan Helm bersama pamannya.

Ada yang membuat saya merasa sakit hati, ibunya tak mempunyai seperak pun untuk biaya pendaftaran untuk menyekolahkan Aa. Untungnya ada tetangga yang memberi Rp. 30.000,- untuk biaya pendaftaran tersebut.

Kata saya, "Kan saudara-saudara ibu orang berada (kaya)?"


"Alhamdulillah, memang saudara-saudara saya orang berada. Namun untuk perhatian sama anak saya sangatlah kurang," jawabnya.


Beliau ibunya mengisahkan bagaimana ia harus membiayai putra-putranya berjualan di warung depan rumahnya dengan modal yang kecil sisa harta suaminya. Tak jarang ibunya harus berkeliling dari kampung satu ke kampung lainnya demi menafkahi anak-anaknya. Pergi pagi pulang sekitar jam tujuh malam.
"Demi anak-anak!" katanya

***

Sebagai tindak lanjut, saya meminta mereka (Aa & Dede) untuk dibina di rumah saya, minimal seminggu 2 kali untuk engikuti program Public Speaking, Belajar Sastra dan Komputer yang sudah berjalan di rumah saya.

Read More

Jumat, 12 Juli 2013

Pasti Bisa: Aku Ingin Jadi Satpam

GURUMUDA.WEB.ID - Suatu sore, di Madrasah Nurul Musthofa seperti biasa puluhan anak-anak dari lima kampung berkumpul berharap bisa membaca a ba tsa. Hujan mengguyur sejak siang, namun tak mengikiskan semangat mereka demi sebuah ilmu yang mungkin mereka pun tak tahu tujuan mereka mengaji.

Baca Juga Kisah Inspirasi lainnya: 
Panggung Impian Kreatif nan Mewah 

Pun dengan Iki, Muhammad Rizki lengkapnya. Usianya empat tahun, tahun ini ia bersikeras untuk masuk PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang jauh dari rumahnya. Ia selalu diantar ibunya yang setia menunggu sampai pengajian usai.

Madrasah Nurul Musthofa tepat di tengah sawah, hanya dua bangunan yang berdiri tegak di sana. Bila hujan mengguyur seperti sore itu, sudah dipastikan mereka akan berbecek melintasi galengan (pematang) sawah yang cukup licin jalannya. 

Tak jarang Iki selalu minta digendong ibunya untuk menuju rumah keduanya. Ya, bagi Iki tempat ngajinya terasa rumah kedua baginya. Ia bebas melakukan apa saja. Membaca buku walau ia tak tahu apa yang ia baca. Melihat gambarnya saja ia sudah puas.

Hari Sabtu ada pelajaran plus di Madrasah Nurul Musthofa,  Public Speaking. Iki tak tahu apa itu public speaking. Yang ia ketahui, tiap hari Sabtu selalu saja ia disuruh untuk maju ke depan, sekedar memperkenalkan diri dan seputar cita-citanya.

"Sekarang giliran Iki yang maju ke depan!" suruh pengasuh.
Masih malu, namun terpaksa ia maju ke depan. Ia melihat mata kawan-kawannya yang tertuju padanya.

"Baiklah, silakan Iki perkenalkan nama. orang tua, alamat dan apa cita-citanya!" kembali pengasuh menyuruhnya.

Tergagap.

"Na..na..ma.. sa..sa..ya... Muhammad Rizki. Alamat saya di kampung Lunjuk Girang. Orang tua saya bernama Bapak Pandi dan Ibu Yuyum," 

Kini ia bisa menguasai dirinya. Namun, ia diam.

"Cita-citanya apa?" tanya kawan-kawannya serempak.

"Aku ingin jadi Satpam..." semua menertawakan. Iki hanya terdiam. Bingung. Kenapa teman-temannya menertawakannya. 

Untunglah pengasuh mengendalikan kondisi yang sudah sangat ribut dengan ocehan-ocehan yang tak dimengerti Iki.

"Wah hebat dong! Tugas satpam itu untuk mengamankan. Iki bisa menjadi pengaman bangsa Indonesia dengan cara menjadi satpam"  hibur pengasuh. Iki tersenyum bangga.

Read More