Tampilkan postingan dengan label Ayo Mondok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ayo Mondok. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Desember 2015

Pondok Kreatif & Pesantren Impian Asma Nadia mengundang Anda

www.gurumuda.web.id - - ADA 4,8 juta anak terabaikan dan yatim piatu diluar sana membutuhkan empati serta uluran tangan dari saudara-saudaranya yang baik hati. Kondisi ekonomi Indonesia yang sedang turun, semakin membuat mereka kekurangan perhatian. Mereka butuh kehadiran kita semua, uluran hati dan kasih sayang dari kita semua. 

Tidak semua anak-anak akan bisa kita tampung, terlalu sombong bila mengatakan bahwa kita bisa menampung mereka semua. Namun kita bisa melakukannya, membantu mereka, menyayangi mereka, menyediakan tempat pembelajaran yang layak bagi mereka. Kita bisa bergandengan tangan demi mereka dan memasuki pintu surga bersama-sama. 

Seperti hadits yang memperlihatkan contoh dari Rasulullah SAW tentang kasih sayang beliau terhadap anak-anak dan juga anak yatim piatu:

Al-Imam Bukhari dan Al-Imam Muslim r.a. meriwayatkan daripada Sayyidina Anas bin Malik r.a, bahwa junjungan kita Nabi s.a.w. bersabda:
"Sedianya sembahyangku akan kupanjangkan, namun bila ku dengar tangisan bayi, terpaksa aku singkatkan karena mengetahui betapa gelisah hati ibunya, dan di mana saja baginda dengan anak kecil maka dengan penuh kasih sayang dipegangnya."
Sedang terhadap yatim piatu, perhatian Nabi Muhammad SAW. sangat besar sekali, prihatin, melindungi, dan menjamin keperluan hidup mereka, dan selalu dipesankan dan dianjurkan kepada umatnya dalam tiap keadaan. 

"Aku dan pemeliharaan anak yatim, akan berada di syurga kelak", sambil mengisyaratkan dan mensejajarkan kedua jari tengah dan telunjuknya, demikianlah sabda baginda s.a.w. (H.R. Bukhari) 


Rasulullah menjamin pintu surga bagi umatnya yang mengasihi anak yatim piatu:

Rasulullah Saw. bersabda, “Demi Allah yang mengutusku dengan kebenaran, di hari kiamat Allah Swt. tidak akan mengazab orang yang mengasihi anak yatim, dan bersikap ramah kepadanya, serta bertutur kata yang manis. Dia benar-benar menyayangi anak yatim dan memaklumi kelemahannya, dan tidak menyombongkan diri pada tetangganya atas kekayaan yang diberikan Allah kepadanya.” (H.R. Thabrani)

Dan dalam Al Quran disebutkan orang-orang yang menghardik anak yatim piatu sebagai pendusta Agama:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan Agama, itulah orang yang menghardik anak  yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin “ {QS. Al-ma’un : 1-3}


Pondok Kreatif & Pesantren Impian Asma Nadia

Merupakan sebuah tempat yang akan menjadi pusat pembelajaran kreatif, rumah inap yatim piatu dan anak-anak terabaikan serta pendidikan pendampingan kejar prestasi.

Saat ini pembelajaran yang sudah/sedang berjalan diantaranya:

- Pembelajaran Mewarnai/Menggambar

- Komputer

- Sastra

- Public Speaking

- Tahfiz Qur'an

- Memberantas Buta Huruf Qur'an

Disini sudah ada Farhan yang hampir 13 tahun tidak bertemu ayahnya, dia giat belajar serta aktif bersosial, memiliki kecerdasan untuk bekal masa depan. Farhan, seorang bocah yang ditinggalkan oleh Ayahnya selama belasan tahun. Ayahnya yang tidak bertanggung jawab, tidak pernah lagi terlihat untuk Farhan. 

Pondok Pesantren kami ini mengajak Anda untuk bergandengan tangan, menyelamatkan Farhan-farhan kecil yang lain, yang ada diluar sana. Bila bukan kita yang bisa menyelamatkan mereka, siapa lagi?

Kita butuh untuk mengulurkan kasih sayang kepada mereka. Mereka membutuhkan tempat, mereka membutuhkan sebuah pondok pesantren untuk bernaung dan belajar. Dan kita bisa untuk mereka.

MARI DUKUNG PROGRAM KAMI!!!

Bantuan berupa dana bisa disalurkan melalui rekening sbb:
Bank Syariah Mandiri (kode bank: 451)
No. Rek: 7052817905
a.n Rumah Baca Asma Nadia Garut

Sementara dalam bentuk buku/Al Qur'an/IQRO bisa dikirimkan ke alamat:
Rumah Baca AsmaNadia Garut
Kp. Hegarmanah Rt. 04 Rw. 11 Ds. Talagasari
Kec Kadungora Garut 44153



Read More

Kamis, 29 Oktober 2015

Demi Mencintai, Mati Lampu Bukan Halangan

GURUMUDA.WEB.ID --- SEDARI sore menjelang Maghrib dilakukan pemadaman listrik berjamaah. Hanya beberapa buah lilin saja yang bisa menerangi rumah kami yang dijadikan tempat pengajian anak-anak shift malam.

Beruntung saya punya anak-anak seperti mereka. Sebab mereka, jiwa ini terus diolah. Rasa cape setelah beraktivitas seharian di luar bukan alasan untuk libur mengasuh.

Beruntungnya mengasuh mereka, saya bisa mendapatkan do’a dari mereka. Apalagi ada dianatara mereka yang sudah tidak beribu atau berbapak. Ya. Dari mereka ada yatim piatu. Saya sangat meyakini ajaibnya sekumpulan do’a dari mereka, terlebih dari yatim.

Malam Jum’at memang rutinitas kami dengan kegiatan istighosah wa sholawah. Juga pembacaan sirah nabi dalam Kitab Syi’rul Hisan berbahasa Sunda huruf Pegon. Saya lantunkan dengan danding Pupuh Sinom. Selaras dengan suasana malam Jum’at (29/10) ini dengan kondisi mati lampu berjamaah. Anak-anak merasa dipepende dengan kisah nabi dengan lantunan pupuh.

Lokasi di tempat kami yang tepat di tengah sawah menambah suasana semakin khidmah dalam kecintaan kepada sang nabi. Lantunan shalawat dengan tabuhan hadroh marawis saling bersahutan dengan suara jangkrik yang sejak maghrib tadi sudah berzikir. Demi mencintai nabinya, mati lampu bukan penghalang untuk terus menyebut namanya. Penghulu para nabi dan rasul.

Do’a yang dipanjatkan bukan untuk kami saja, melainkan bagi sahabat kami yang selalu mencintai dan mendukung perjuangan kami membangun Pondok Kreatif & Pesantren Impian AsmaNadia yang akan dijadikan sebagai rumah inap yatim piatu dhuafa, pusat pembelajaran prestasi dan pendampingan kejar prestasi ini.

Sungguh…

Malam ini sangat berbeda dengan malam Jum’at sebelumnya. Bukan berarti setiap waktu memang berbeda, melainkan serasa ada angin segar yang bukan biasa mengelilingi kami.

Isak tangis anak-anak begitu menggetarkan jiwa-jiwa yang menghadiri majelis kecil ini. Apalagi bagi si pendosa ini. Saya ajak mereka kepada perjalanan mengingat mati.

“Bagaimana jika esok lusa ayah dan ibu kalian meninggal?”


Apa yang akan kalian lakukan. Kalian hanya bisa menangis dan menangis.

Anak Adam di dunia teh moal lila
Hiji mangsa urang teh baris teu aya
Lamun maot geus katanca anak Adam
Hamo aya nu bisa ngahalang-halang

“Ayolah... Sekarang kita manfaatkan waktu untuk bisa berbakti kepada orang tua, berbakti pula kepada guru-gurumu!”

Ingat anak-anakku…

“Jangan jadikan ke-yatim-an mu melemahkan semangat untuk menjadi manusia bermanfaat!”


Semoga pula nabi kita menolong kita dengan lautan kecintaan.


***


Lepas berdo’a sebagai penutup, keempat puluhan anak-anak menyusuri galengan sawah dalam kegelapan. Karena listrik belum juga menyala.

29 Oktober 2015
22.35 WIB

#PondokKreatifPesantrenImpian AsmaNadia
#AjaibnyaDoaYatim
#JumatBerkah

Read More

Jumat, 23 Oktober 2015

Guru Muda Bacakan Puisi Zawawi Imron di Hari Santri Nasional

GURUMUDA.WEB.ID - Hari santri Nasional pada tanggal 22 Oktober, sudah ditetapkan dalam Keputusan Presiden (Keppres). Dimana disandarkan pada momentum fakta sejarah pergerakan jihad yang diinisiasi oleh Hadrotu Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, yang dikenal dengan sebagai “Resolusi Jihad”.

Di Garut sendiri kemeriahan Hari Santri Nasional dipuatkan di Islamic Center Garut (ICG). Ribuan santri dari 42 kecamatan hadir. Kreasi santri pung ditampilkan; Pencak Silat, Marching Band, Hadroh dan Marawis.

Saya yang sebagai Ketua Umum Ikatan Hadroh Marawis Garut (IHMAGA) mengondisikan untuk penampilan Rampak Hadroh Marawis yang diikuti oleh ratusan personil.

Sebagai bentuk ittiba’ kepada kepada Ulama sekaligus Penyair yang terkenal, KH. D. Zawawi Imron yang menutup acara Kirab Hari Santri Nasional di Tugu Proklamasi, Jakarta dengan membacakan penggalan puisi berjudul Resolusi Jihad. Maka, di Garut saya membacakan puisinya yang terkenal “Cerulit Emas”.

Hari Santri Nasional benar-benar menjadi sejarah. Sejarah bagi kaum sarungan karena telah dideklarasikan oleh Presiden Jokowi. Sejarah bagi saya, karena pertama kalinya membacakan puisi karya penyair terkenal di depan ribuan santri.

Sayangnya, bukan puisi “Resolusi Jihad” yang lebih pas di acara akbar itu. Puisi “Resolusi Jihad” tidak bisa ditemukan di pencarian Google. Tetap saya bersyukur bisa selalu belajar berkhidmah kepada kyai-kyai sepuh.

Di akhir puisi, saya katakan, “ SEJATINYA KITA ADALAH SANTRI WA SANTRIAH HADROTU SYAIKH MBAH HASYIM ASY’ARI”

Tepuk tangan ribuan santri tanda mengamini.
Read More

Minggu, 04 Oktober 2015

Panggung Impian Kreatif nan Mewah

GuruMuda.web.id - - UNTUK mengejar impian, tak hanya cukup kata-kata atau tulisan belaka. Harus ada bukti yang nyata untuk mengejarnya. Pun harus ada media untuk menyimpan moment di memori.

Hari Sabtu sudah menjadi rutinitas belajar Public Speaking, dengan harapan anak-anak terbiasa jika suatu saat nanti dipercaya harus berbicara di depan umum. Jika sudah terbiasa, minimal mereka sudah terbiasa mengendalikan grogi.

Panggung Impian Kreatif 


Ya. Judul yang saya dapatkan secara spontanitas ketika kegiatan Public Speaking bersama anak-anak berlangsung di Sabtu sore (3/10/2015).

Kali ini saya ajak mereka belajar Public Speaking di atas tanah yang akan dijadikan Pondok Kreatif & Pesantren Impian AsmaNadia / Ma’had Nurul Musthofa. 

Ada tumpukan pasir, batu koral dan batu bata yang belum sempat dipindahkan. Inspirasi dari langit seketika datang. Akhirnya tumpukan itu disulap menjadi Panggung Impian Kreatif.

Mereka harus berpidato di atas Panggung Impian itu. Di atas tumpukan tanah itu mereka menyampaikan harapan dan cita-cita mereka. 
panggungnya di atas pasir. Keren kan?

Bagi saya, ini moment yang sangat penting. Dan saya yakini moment yang special ini akan terekam dalam otak dan hati mereka. Bahwa mereka pernah mengemukakan impian mereka di atas Panggung Impian Kreatif nan Mewah (mepet-mepet sawah)

Semoga pun, tulisan ini menjadi saksi juga do’a bagi impian-impian saya dan mereka. Saya hanya mencoba untuk mengantarkan mereka untuk mengejar impian mereka.
Read More

Santri Multitalent: Tak hanya mengkaji ilmu agama, melainkan mereka harus siap belajar IT dan Seni Budaya

GuruMuda.web.id -- Diantara kehidupan yang paling berharga adalah hidup sebagai seorang santri. Ya. Selama 24 jam hidup di lingkungan pesantren tentu saja dihitung dalam jihad - berjuang di jalan Allah -.

Santri yang mandiri, diharapkan menjadi sosok penerus risalah keulamaan dan kenabian. Pengemban tanggung jawab yang amat berat, menjadi khadimul ummah (pembantu masyarakat) ketika kembali ke lingkungan masing-masing.

Dengan kondisi zaman seperti sekarang ini, tentu saja santri harus ekstra serba bisa. Multitalent.

Tak hanya ilmu agama yang dipelajari, pembelajaran pengimbang zaman pun seperti Teknologi Informasi tak kalah harus dipahami.

Zaman digitalisasi harus diimbangi. Ketika media dakwah semakin luas, maka santri harus peka memanfaatkannya.

Ini pula yang memotivasi saya untuk terus selalu menambah khazanah keilmuan. Ilmu Dunia wal Akhirat.

Diamanahi beberapa puluh anak santri, menjadi motivasi untuk berbuat 'sesuatu'. Apalagi dengan kondisi masyarakat dan latar belakang keluarga mereka.

Baca: Ini Cara KAmi Menghafal Al Qur'an

Maka, saya bersikukuh untuk mengantarkan mereka menjadi santri multitalent. Tak hanya mengkaji ilmu agama, melainkan mereka harus siap belajar IT dan Seni Budaya.
Para Santri sedang berlatih Upacara Adat Mapag Panganten versi Hadroh Marawis.

Karena bagi saya, garapan dakwah sangatlah luas. Santri berdakwah tak harus di atas podium. Mereka pun harus bisa bersdakwah dengan media lain yang kreatif. Dakwah melalui kaos yang sedang saya garap, misalnya. Atau dengan membuat TV ala santri yang memanfaatkan smartphone, dengan studio yang bisa diakali meskipun ukuran kecil.

TV ala santri pun sedang saya garap sebagai media santri untuk berkreasi.

Santri benar-benar harus serba bisa. Dengan memegang teguh, " Sebaik-baik manusia adalah ia yang bermanfaat untuk orang lain."
Read More

Minggu, 19 Juli 2015

Ilmu Berkah, Cari Ridha Guru

GuruMuda.web.id --- ILMU menjadikan kualitas seorang hamba berbeda satu sama lain. Ilmu yang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Pantaslah Allah Ta'ala memberikan predikat istimewa bagi orang-orang yang berilmu. Yakinlah akan janji Allah yang akan memberikan derajat kemulyaan yang sangat tinggi bagi mereka pencari ilmu.

Namun, dengan ilmu pula seorang hamba akan menuai kecelakaan. Ilmu tanpa amal. Ilmu yang tidak berkah. Na'udzubillah.

Lantas bagaimana meraih ilmu yang berkah?


Ilmu yang berkah bukan ilmu yang banyak. Meskipun ilmu yang sedikit, bila dimanfaatkan itu salah satu tanda ilmu yang dinaungi keberkahan. Bagi pencari ilmu sejati, keberkahan ilmu adalah do'a yang sering digadang-gadangkan setelah mendo'akan orang tua.

Sekedar tahadust bi ni'mah, semoga ilmu yang saya dapat pun mendapatkan keberkahan. Selepas saya mondok di beberapa pesantren. Hanya secuil ilmu yang bisa saya dapatkan dari guru-guru mulia. Jadwal kajian ba'da Dhuha  sering tidak saya ikuti sepenuhnya. Apalagi saya sering terlambat masuk kelas. Ketiduran selepas sorogan (setoran baca kitab kuning)  ba'da Shubuh. Karena malamnya ikut Pangersa Kyai ta'lim di beberapa daerah. Atau masih mengerjakan tugas beres-beres; ngepel dan nyapu di  rumah Kyai.

Untuk urusan keilmuan, terus terang saya terlalu dangkal bila dibanding dengan sahabat santri lain. Ada dari mereka sudah hafal Nadzham Alfiyah yang isinya lebih seribu bait. Atau hafal hadist, minimal Hadist Arba'in. 

Ilmu yang Sedikit itu begitu Berkah


Saya begitu meyakini "Berkah Ilmu tergantung sejauh mana guru ridha." 
Ya. Saya begitu merasakannya. Ilmu yang sedikit ini begitu terasa manfaat ketika diamalkan oleh sendiri dan juga bisa berbagi dengan anak-anak. Mungkin ini berkah berkhidmah (membantu) Kyai. Sering saya rasakan kenikmatan yang luar biasa, manakala memijit Kyai. Saya bisa meringankan penatnya aktivitas sehari-hari Kyai yang begitu padat dengan rutinitas pengajiannya. 


Saya (kanan) bersama guru mulia, KH. Fahruddin bin Ghozali (tengah) dan sobat saya (kiri)

Terkadang, ada satu hari jadwal Kyai sampai lima tempat. Itu pun bukan jarak yang dekat. Dari Sumedang menuju Kuningan, balik ke Majalengka dan berakhir di Sumedang lagi. Hebatnya Kyai, beliau tak memperlihatkan lelahnya. Justru sebaliknya, beliau begitu bersemangat untuk urusan dakwah. 

Semoga Allah terus memberkahi ilmu kepada saya, sebab saya mencari keridhaan dari guru-guru mulia. [***]

Salam Ta'dzim,

Guru Muda

Read More

Jumat, 19 Juni 2015

Kembali Mengadakan Pesantren Ramadhan

GURUMUDA.WEB.ID - Demi sebuah tujuan, sudah dipastikan segalanya diikhtiarkan. Ramadhan yang agung sangat laik diisi dengan kegiatan yang super kebaikan.


Kembali saya mengadakan #PesantrenRamadhan. Di tahun 1436 H ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dimana di tahun ini, saya mencoba menambah program. Diantaranya, setiap peserta wajib hapal Asmaul Husna selepas mengikuti #PesantrenRamadhan ini.

Tak hanya itu, kepedulian sejak dini harus terus diupayakan. Saya pun menambah program #PeduliGuruNgaji.

Guru Ngaji dari 5 kampung menjadi target untuk diberikan hadiah, entah dengan uang tunai atau barang seperti busana muslim, dll.

Read More