Makannya Nabi, Berbeda dengan Makannya Kita

GURUMUDA.WEB.ID – Makhluk hidup memerlukan makanan untuk melangsungkan kehidupannya. Begitu juga dengan makhluk teragung, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, yang diagungkan oleh Yang Maha Agung.

Namun, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memiliki cara dan aturan sendiri. Dan inilah yang menjadikan beliau sehat dan kuat


Istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, Siti ‘Aisyah, memberikan kesaksian terhadap kebiasaan beliau dala, memenuhi kepeluan makannya. Yakni, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memenuhi perutnya.

Ketika bersama keluarga, beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak perah minta makanan kepada istri-istrinya. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam makan dan minum apa yang dihidangkan.

Teladan ini mungkin sangat berlainan dengan kita sekarang ini, tetapi begitulah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyontohkan. Dan kita pun sebagai pengikut beliau, berusaha untuk terus meneladani akhlak beliau.

Namun, ada saja diantara kita yang mencoba mementahkan hadits itu dengan hadits lainnya. Yaitu, ketika itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bertamu di rumah Barirah. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah aku melihat daging di dalam panci?” (H.R. Bukhari & Muslim). Maksudnya, “Mengapa tidak mau kau hidangkan untukku?”

Mengapa Nabi bersabda begitu. Seolah-olah Nabi meminta makanan dari tamu? Tidak demikian. Bukannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam meminta-minta makanan. Tetapi, beliau ingin menjelaskan kepada para sahabat bahwa, karena mereka menyangka daging tersebut bagi Nabi, beliau menyataan sunnahnya, boleh memakan daging itu.

Karena itulah, kemudian beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Daging ini adalah shadaqah untuk Barirah dan hadiah bagi kita.”

Hanya Sepertiga Perut

Al Miqdam ibnu Ma’dikarib berkata bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Anak Adam tidak memenuhi suat bejana yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa potong makanan untuk menguatkan punggungnya. Jika memerlukan lebih banyak lagi, sepertiga perut untuk makanan, sepertiganya untuk minuman, dan sepertiga sisanya untuk (rongga) bernapas.”

Dari sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam inilah banyak ulama menambah keterangannya, sebagaimana disampaikan Sufyan Ats Tsauri, seorang tabi’in (muridnya sahabat),

“Makanlah hanya sedikit makanan, sehingga seseorang akan tahan terjaga di tengah malam.”

Begitu juga seorang salafusshalih menjelaskan, “Janganlah banyak makan. Jika banyak makan, engkau juga banyak minum. Akibatnya banyak tidur, dan akhirnya banyak kehilangan (waktu untuk beribadah).”


Cara Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam makan

Diriwayatkan, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cara makan yang lebih kusukai adalah makan dengan banyak tangan.”

Maksudnya, dengan memakai tangannya dan bersama-sama orang lain.

KH Ahmad Asrori Makan bersama Abuya Muhammad Alawi Al Maliki Makkah


Dalam hadits shahih, Nabi Muhammd shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi diriku sendiri, aku tidak makan seraya mengambil sikap duduk.”

Maksudnya mengambil tempat duduk tertentu, atau duduk bersandar dalam rangka makan. Misalnya, duduk bersila atau dengan cara duduk lain yang lebih enak.

Seperti seseorang yang bersila atau dengan cara duduk lain yang lebih nayaman ketika makan. Apabila seseorang mengambil sikap duduk tertentu atau dengan cara tetentu, ia berusaha menghabiskan banyak makanan. Ketika Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam duduk untukmakan, beliau duduk setelah berjongkok, persis seorang yang hendak bangkit dari duduk (Hadits Riwayat Bukhari)

Inti dari hadits itu, menurut Qadhi bin Iyadh, seorang pakar hadits, bukanlah semata-mata duduk bersandar pada sebuah sisi sebagaimana dikatakan oleh sebagian orang. Melainkan, bisa saja dalam kondisi lain beliau duduk sebagaimana orang pada umumnya.

Hal seperti itu juga berlaku dalalm tidurnya. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam tidur hanya sebentar. Beberapa riwayat hadits terpercaya menyatakan perihal tidur beliau yang sebentar.
Lebih jauh, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekalipun mataku tertidur, hatiku terjaga.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Wallahu ‘alam bi shawwab.


Leave a Comment

%d bloggers like this: