Berawal dari KKN

Duduk diapit ibu bapak. Saudaraku yang mengantar tepat di belakangku. Memakai jas yang belum pernah kukenakan sebelumnya. Protokol sudah membuka acaranya. Lepas penyerah terimaan pengantin, aku masih saja merasa bermimpi, “Benarkah hari ini aku melepas masa lajangku?”
Rasanya baru kemarin aku lulus SMA, dan masih dibiayai orang tua. Kini aku yang harus menafkahi anak orang. Apakah rasaku sama dengan yang lain? Tak percaya beberapa menit lagi aku akan mengucapkan ijab. Aku akan mempersunting belahan jiwa yang ingin kujadikan bak Khadijahnya Rasulullah.
“Qobiltu nikahaha…” ijabku.

Alhamdulillah, tepat tanggal 12 Rabbiul Awwal atau 27 Februari 2010 aku sah menjadi seorang suami dari istriku tercinta. Tanpa pacaran sebelumnya, biarlah bermesraan dibalut pernikahan yang aku jalani. Aku tak ingin menodai kesucian ini.

Sungguh, indahnya menjalani sunah rasul bila dilandasi penuh islami. Nikmatnya luar biasa.

Benarlah adanya, bersalah faham dalam rumah tangga bagai masakan tanpa garam. Bila ada perselisihan kecil, ternyata itu adalah suatu bentuk kenikmatan yang Allah turunkan. Tentu jika disikapi dengan berbaik sangka. 

Pernah ketika kutinggalkan kerajaan kecilku untuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama sebulan. Aku yang telah beristri merasa seperti bujangan. Observasi dari kampung ke kampung tiap hari kami lakukan bersama tim. Sepeda motor menjadi alat paling efektif untuk menunjang observasi tersebut. Membonceng lawan jenis (perempuan) terpaksa kami – laki-laki- yang bisa lakukan. Karena perempuan tak ada yang bisa menggunakannya.
Seperti biasa, hari itu aku membonceng perempuan yang jelas bukan istriku untuk mendatangi sekolah yang menjadi target observasi. Benarlah, batin istri sangat kuat kepada suaminya ketika ditinggalkan. Nada SMS di HPku berdering, kubaca pesan singkat itu, “Nggak bonceng perempuan, kan”. Deg. Kok dia tahu kalau aku membonceng perempuan, batinku. Aku jawab, nggak.

Setelah kegiatan KKN usai. Untuk menguatkan perasaan, istriku kembali bertanya, “Sewaktu KKN nggak bonceng perempuan lain, kan?”

“Nggak,” jawabku.
Namun, aku tak bisa memungkiri bahwa jawabanku menjadi kesalahan yang sangat fatal. Ia tahu bagaimana aktivitasku sewaktu KKN. Tentu saja karena ada seseorang yang selalu mengabarkan apa yang aku lakukan. Saat itulah kecemburuan yang tak tertahan meledak. 
Aku nasihati sedapat mungkin, semoga ia mengerti. Alasan-alasan yang tak masuk akal pun aku kerahkan. Syukurlah ia pun memahami. Namun, kecemburuannya tak pernah luntur sampai saat ini. Malah, kecemburuannya membuat aku semakin sayang.
===================================================================

Leave a Comment

%d bloggers like this: