Tampilkan postingan dengan label Sekolah Literasi Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah Literasi Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 September 2017

Guru Muda Wakili Garut ke Bandung

GURUMUDA.WEB.ID - Menjadi pegiat literasi masyarakat sebagai relawan Perpustakaan Dhuafa di Rumah Baca Asma Nadia Garut adalah modal awal saya diundang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (DISPUSIPDA)  untuk mengikuti Bimbingan Teknis (BIMTEK) Pengelolaan Perpustakaan Masyarakat di Hotel Lingga Bandung. Dilaksanakan selama empat hari (5-8 September 2017).

Bersyukur saya bisa menjadi bagian dri para pegiat literasi masyarakat yang ditunjuk oleh   dispusipda. Pasalnya, dari ratusan ratusan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang ada di Garut, saya mewakili  Rumah Baca Asma Nadia Garut, dan relawan lain dari TBM  AIUEO.

3 Relawan Rumah Baca Asma Nadia Jawa Barat (Garut, CIanjur & Majalengka) bersama Dr. Hj Oom Nurrohmah, M.S.i dari Dispusipda

Lebih bersyukur lagi, saya bisa bertemu dengan pegiat literasi masyarakat yang sangat menginspirasi. Perjuangan saya mengajak masyarakat untuk lebih berminat di dunia literasi belum apa-apanya dibanding dengan Kang Ipul dari Sumedang yang setiap hari Sabtu dan Minggu buka lapak di Alun-alun Sumedang. Atau Kang Sidik dari TBM Abatatsa Kabupaten Tasikmalaya yang mengajak pemuda 'pemakai', yang dengan cerdasnya beliau bisa mengalihkan perkara yang buruk menjadi pemuda yang diharapkan di kampungnya. Terbiasa membaca dan ikut dalam komunitas positifnya.

Terlalu banyak kisah-kisah mereka pegiat literasi yang tak berdasi, apalagi bergaji itu. Mereka benar-benar patut diapresiasi. Indonesia butuh banyak orang-orang seperti mereka.

Selain dari pemateri bimtek, ilmu dan pengalaman sangat banyak saya serap dari mereka peserta pemustaka masyarakat yang berdedikasi tinggi itu. Karena, hanya sedikit orang yang peka ingin memajukan daerahnya, apalagi memberikan nilai lebih pada kampung halamannya.

Berbuat sesuatu yang 'bernilai' tak cukup rencana atau konsep belaka. Aksi nyata adalah level selanjutnya yang harus dikerjakan.

Bedanya Pustakawan Formal dan Relawan Perpustakaan Masyarakat

Saya sebut pustakawan formal, artinya mereka yang bertugas sebagai tenaga kependidikan di sekolah yang biasa berjaga di perpustakaan sekolah atau Perpustakaan Daerah (PERPUSDA)

Sementara relawan perpustakaan masyarakat adalah mereka yang ikhlas tanpa pamrih, terdorong karena melihat kondisi masyarakat yang rendah terhadap minat baca. 

Karena saya menjadi salah satunya, saya melihat ada perbedaan yang sangat jelas.

Pustakawan Formal:
- Digaji
- Punya Nomor Unik Pendidik & Tenaga Kependidikan (NUPTK) - nomor pribadi khusus
- Administratif (Harus paham seluk beluk administrasi pengelolaan perpustakaan)
- Kurang Kreatif
- Kaku

Relawan Perpustakaan Masyarakat/TBM/ Rumah Baca:
- Tidak digaji
- Tidak punya nomor pribadi khusus seperti NUPTK. Paling ada nomor anggota di Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM)
- Kebanyakan tidak mementingkan masalah administrasi perpustakaan
- Kreatif
- Lebih menjadikan perpustakaan sebagai tempat rekreasi edukasi dengan berbagai program pendukung

Kenapa Relawan/Pemustaka Masyarakat tidak begitu 'peduli' dengan administrasi perpustakaan?

Yang saya rasakan dan sudah dilakukan adalah target kita apa? Minat baca, kan? Saya termasuk yang tidak terlalu memusingkan dengan administrasi perpustakaan. Yeng penting bagaimana caranya mereka (masyarakat) bisa meningkat dalam urusan membaca, selanjutnya menulis.

Beruntung, saya disadarkan pentingnya administrasi pengelolaan perpustakaan melalui bimtek ini. Setidaknya, saya ada pekerjaan tambahan membuat label buku, mendata ulang, membuat kembali daftar peminjam, dll.

Tak hanya bersyukur, beruntung mengikuti bimtek ini. Saya pun berhamdallah bisa menjadi bagian dari pemian teatrikal puisi yang ditampilkan pada saat penutupan bimtek.

Ceritanya di postingan berikut ya...
Read More