Tampilkan postingan dengan label Rumah Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah Belajar. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Maret 2016

Asma Nadia Sang Inspirator

www.gurumuda.web.id - - - BANGGA. Satu kata yang mewakili perasaan saya saat ini. Bersyukur pun tak luput menyelinap di hati saya. Bangga karena penulis yang saya idolakan menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia untuk mengikuti The International Writing Program (IWP) di Amerika. Sebuah program yang menyatukan para penulis seluruh dunia.

Pun saya merasa bersyukur. Karena saya salah satu dari bagian keluarga besar seorang penulis perempuan paling produktif di Tanah Air Indonesia ini. Asma Nadia. Siapa yang tak kenal dengan penulis yang satu ini. Sudah menelurkan sekitar 49 buku yang hampir semua best seller. Saya menjadi keluarga besarnya, Alhamdulillah saya diamanahi beliau untuk mengelola sebuah perpustakaan dhuafa dengan nama Rumah Baca Asma Nadia Garut.

Bahkan, saya diundang beliau untuk mengikuti Writing Workshop with Asma Nadia & Isa Alamsyah.  Banyak sekali pencerahan tentang dunia literasi yang jarang saya temukan oleh penulis lain. Ternyata banyak sekali kekeliruan cara penulisan yang selama ini saya tulis, di blog misalnya. Terkadang saya menyepelekan tanda baca, serangan kata yang sama, opening yang tidak menarik sampai miskin kosa kata. Namun, berkat pelatihan bersama Asma Nadia & Isa Alamsyah saya mampu melihat kekurangan saya.

Asma Nadia Sang Inspirator
Sejujurnya saya mengenali seorang Asma Nadia sewaktu SMP. Ketika itu saya membaca Majalah Annida pembelian kakak. Ceritanya ringan, namun mengena. Padahal beliau bukan dari jurusan sastra. Mungkin inilah kalau menulis dengan hati. Tulisannya pun akan menembak ke hati pula.

Bunda Asma (begitu saya panggil) pernah berkisah ketika beliau silaturahmi ke rumah saya (RBA Garut). Bagaimana kehidupannya masa lalu. Tinggal di sebuah bilik kayu di pinggir kereta api. Pernah pula ketika usianya tujuh tahun, kepalanya terbentur ujung besi yang lancip. Dokter memvonisnya gegar otak. Tak tanggung-tanggung, ketika dokter melakukan general check up, Bunda Asma pun dapat vonis tambahan: kelainan pada otak bagian belakang, paru-parunya kotor, bermasalah pada jantung. Bahkan empat belas giginya harus dicabut karena membusuk dan tak beraturan. Namun, tak menjadikannya lemah apalagi mengeluh.

“Saya akan melawan penyakit saya dengan berkarya, Kak. Dengan melakukan sesuatu.” Kata Bunda Asma seperti yang telah dituturkan kepada kakaknya, Helvy Tiana Rosa.
Kunjungan Bunda Asma & Team saat malam-malam. (dok. pribadi 12/6/2013)


Bunda Asma Nadia memang sosok yang menginspirasi. Terlebih buat saya dan anak-anak. Apalagi sekarang beliau menjadi satu-satunya mewakili Indonesia di kancah Internasional. Pastinya Indonesia bangga dengan anak negeri seperti Asma Nadia.

Semoga banyak Asma Nadia lainnya yang bisa mengharumkan Indonesia.

Oleh: Roni Yusron Fauzi

***

Tulisan ini pernah saya publish di blog saya sebelumnya gurumuda.info (udah expired) pada tanggal 25 Agustus 2013

Read More

Kamis, 17 Maret 2016

Pak Roni Ayahku juga kan?

www.gurumuda.web.id - - - SEPERTI biasa, sebelum Ashar rumah saya selalu dikunjungi anak-anak kampung untuk mengaji. Rumah yang tak begitu luas dirasa cukup untuk menampung anak-anak yang jumlahnya sekitar 75an, walau ruangan dapur ikut dipakai juga. Cukup sesak memang. Tapi tak menyurutkan semangat mereka untuk terus mendalami ilmu agama dari pengasuh yang masih miskin ilmu ini.

Jadwal hari Kamis adalah Mahabbah ar Rasul (Mencintai Nabi). Ini merupakan pelajaran yang sangat disukai anak-anak. Terlihat dari antusias mereka pada apa yang saya kisahkan tentang perjalanan manusia termulia, panutan sekalian alam, yang diutus sebagai rahmatan lil alamin, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaih wasallam. Mereka sangat khusyuk mendengarkan kisah Nabi ketika Perang Badar, mereka terpesona pada cerita tentang keistimewaan Rasulullah. Budi pekerti Nabi yang harus diteladani.

Kamis yang senja ketika itu, saya mengisahkan Nabi shalallahu ‘alaih wasallam dan Anak Yatim.
Suatu hari Rasulullah SAW., keluar dari rumahnya untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri. Saat itu beliau menyaksikan anak-anak yang tengah bermain bersuka cita menyambut hari kemenangan. Diantara anak-anak yang tengah bermain itu, beliau SAW mendapati seorang anak yang tengah bersedih duduk sendiri sambil menundukkan kepalanya. Pakaian yang ia kenakan tak layak untuk dipakai untuk seusianya yang ketika hari raya menginginkan pakaian yang bagus juga baru.
Rasulullah kemudian menghampiri anak itu, dengan lembut nabi mengelus kepala yang kusam dengan lembut.
Lalu beliau SAW bertanya, “Wahai Anakku, apa gerangan yang membuatmu bersedih hati di saat orang lain bersuka cita pada hari ini?”
Dengan mata yang masih nanar anak kecil itu menjawab, “Ya Rajul (wahai lelaki), ayahku telah mati syahid di medan pertempuran bersama Rasulullah. Ibuku menikah lagi. Ayah tiriku merampas sisa harta peninggalan ayahku, lalu mengusir aku. Sehingga aku tak punya makanan, minuman, pakaian, apalagi tempat tinggal,” 
Anak itu masih menunduk dan menangis, tidak tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah penghulu para nabi dan rasul, Rasulullah SAW.
“Hari ini kusaksikan teman-temanku bersuka cita karena mereka memiliki ayah, sedangkan aku…,” lanjutnya.
Mengajak Yatim Dhuafa makan di @WarungDjawara. (7/3/2016)

Rasul mendekap anak itu, lalu berkata, “Wahai anakku, apakah engkau ridha jika aku menjadi ayahmu, 'Aisyah sebagai ibumu, Ali pamanmu, Fathimah bibimu, lalu Hasan dan Husain menjadi saudaramu?”
Anak itu menengadahkan kepalanya, ia terkejut. Ternyata lelaki yang mendekapnya itu adalah panutannya, Rasulullah SAW.
“Tidak ada alasan untuk tidak ridha wahai Rasulullah,” jawab anak itu tersenyum bahagia.
Lalu Rasulullah mengajak anak itu ke kediamannya, dan meminta kepada 'Aisyah untuk memandikannya serta memberikan pakaian yang bagus. Juga makanan yang lezat.
Anak kecil yang tadi berpakain lusuh dan berwajah kusam itu kini berubah terlihat bersih dan ceria, rambutnya tersisir rapi tentunya mengenakan pakaian bagus dari Rasul.
Ia keluar dengan senyum mengembang, bahagia. Teman-temanya yang sedang bermain dikejutkan dengan penampilannya yang telah berubah.
“Tadi kau bersedih, kenapa sekarang kau tampak gembira?” Tanya salah seorang dari mereka.
“Tadi aku memang lapar, tapi sekarang perut ini kenyang. Kalian lihat tadi aku tak berpakaian yang layak, tapi sekarang kukenakan pakaian yang bagus. Kalian mengetahuinya kalau aku adalah yatim, tapi saat ini Rasulullah telah menjadi ayahku, 'Aisyah ibuku, 'Ali dan Fathimah menjadi paman dan bibiku, sedang Hasan dan Husain menjadi saudaraku…” matanya berkaca-kaca.
“Apakah aku tak pantas untuk bahagia di hari kemenangan ini?“ lanjutnya

BELUM berakhir saya mengisahkan anak yatim bersama Rasul, saya dikagetkan dengan sesegukan salah satu santri saya, saya belum tahu persis siapa yang sedang menangis, karena teeralang oleh teman di sampingnya. Lagi pula ia menunduk. Yang pasti itu suara perempuan. Tiba-tiba ia mendekati saya, dengan berlinang ia berucap, “Pak Roni ayahku juga, kan?”

Saya mengiyakan. Kepalanya saya elus dengan penuh kasih. Entah kenapa air mata saya pun ikut mengalir, semua anak-anak yang hadir ikut menangis melihat apa yang dilakukan Kintan. Mereka seolah mengerti apa, padahal Kintan belum bercerita kalau ia seorang anak yatim.

“Kenapa kamu menangis, Neng?” saya coba menanyakan untuk menjawab kepanasaran.
“Aku juga tidak jauh beda sama yang Pak Roni ceritakan, aku anak yatim,” jawabnya sembari memeluk saya.
“Baiklah, mulai saat ini Neng adalah anak Abi (bapak),” kata saya.
Mulai saat itu, saya menspesialkan Kintan, ketimbang anak-anak kampung lain yang berayah. Terkadang bila ada uang hasil dari honor sebagai seorang guru honorer selalu saya sisihkan untuk Kintan. Walau tak banyak, namun ini menjadi anggaran wajib yang harus dikeluarkan perbulan. Tentu dengan bermusyawarah dengan istri.

Janji nabi tak pernah keliru. “”Barang siapa yang meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang, maka Allah akan menuliskan kebaikan pada setiap lembar rambut uyang disentuh tangannya.” Dan ini begitu sangat saya rasakan. Saya teringat ketika itu, sisa uang honor saya tinggal Rp. 20.000 dan saya lupa kalau bulan itu saya belum memberi jatah buat Kintan. Karena ingat pada janji saya, uang itu pun saya berikan untuk Kintan.

Rezeki pasti sudah diatur. Kebaikan pun pasti dibalas. Alhamdulillah, tanpa saya duga sebelumnya. Kepala Sekolah dimana saya mengajar memberikan amplop, padahal gaji sudah diberikan dua minggu yang lalu. “Lalu ini uang apa?” saya coba mengira-ngira.
“Ini uang hasil jasa pengetikan soal UTS kemarin,” kata Pak Kepala seolah mengerti kebingungan saya.
Saya buka amplop yang masih tertutup rapat itu. Uang sebesar 175.000 bagi saya bukan uang yang sedikit. Terima kasih Ya Allah, Engkau sebaik-baiknya Pemberi. Apakah ini keberkahan dari apa yang saya lakukan untuk anak yatim seperti Kintan? Wallahu ‘alam.


***
Tulisan ini pernah saya publish di blog saya sebelumnya gurumuda.info (udah expired) pada tanggal 20 Oktober 2012

Read More

Kamis, 30 Juli 2015

Kini RUMBI Asma Nadia Beraktivitas Lagi

GuruMuda.web.id – – – Setelah liburan Ramadhan dan Syawal, kini Rumah Belajar Informal (RUMBI) Asma Nadia sudah bisa beraktivitas lagi.

Bagi saya, berbagi ilmu  tak harus dengan biaya mahal, apalagi dengan tarif cukup memberatkan orang tua yang ingin anaknya lebih terdidik.

Alasan di atas salah satu alasan saya bersama istri untuk membuka Rumah Belajar Informal atau disingkat RUMBI. Saya namakan RUMBI Asma Nadia. Ya, nama Asma Nadia disematkan karena saya pun sekaligus pengasuh sebuah perpustkaan dhuafa Rumah Baca Asma Nadia di Kecamatan Kadungora, Garut.

Kegiatan RUMBI Asma Nadia sudah berjalan sekitar 3 bulan yang lalu. Anak-anak yang belajar di sini sebagian sudah melanjutkan ke pendidikan formal, TK.

Kini jumlah anak-anak umuran 3-4 tahunan itu mencapai 25 orang. Saya dan istri mencoba memberikan pembelajaran yang inovatif dan lebih mengasyikan. Meskipun sarana prasarana sangat kurang mendukung.

Insya Allah, saya yakin, ketika dimulai dengan kesederhaan akan memunculkan input kebaikan bagi pengasuh.

RUMBI Asma Nadia lebih mengedepankan kepada budi pekerti dan tauhid. Bagaimana seorang anak belajar mengenal Allah Ta’ala dengan ikut terjun tafakur dan tadabur apa yang telah diciptakan-Nya.
Read More

Sabtu, 23 Mei 2015

Kampung Cerdas Kampung Membaca dengan Perpustakaan Berbasis Pesantren

Guru Muda -- Sesungguhnya masyarakat di daerah memiliki banyak potensi dari segi Sumber Daya Alam (SDA) dan juga Sumber DayaManusia (SDM). Namun, faktanya di daerah belum banyak potensi yang dimunculkan. Salah satu kendalanya adalah belum terjamahnya perpustakaan atau taman bacaan di setiap kampung. Fakta ini sangat dimaklumi dikarenakan paradigma masyarakat di daerah, masih minim akan pentingnya membaca.
Atas dasar keprihatinan inilah penulis merasa bertanggung jawab untuk ikut memajukan potensi daerah di Jawa Barat. Sudah selayaknya potensi daerah diberdayakan.
Dengan Gerakan Kampung Cerdas Kampung Membaca dengan Perpusatakaan Berbasis Pesantren diharapkan akan menjadi solusi bagi masyarakat untuk memunculkan potensi SDA dan SDMnya.
Berbeda dengan perpustakaan yang ada. Yang hanya memakukan diri menunggu pengunjung (masyarakat) untuk membaca dan meminjam buku. Tidak demikian dengan Rumah Baca Asma Nadia Garut, taman bacaan ini terjun secara langsungke tengah-tengah masyarakat. Dengan melakukan kegiatan-kegiatan penunjang, seperti santunan paket pendidikan untuk yatim piatu dhuafa, pendampingan kejar prestasi, life skills: pelatihan komputer, sablon, dll.
Tak hanya itu, pendidikan agama dengan pola pesantren pun diterapkan. Kita sepakat bahwa lulusan pesantren dipercaya masyarakat menjadi kader-kader penggerak kemajuan. Apalagi pendidikan pesantren lebih mengedepankan kepada akhlak (perbaikan karakter). 

Dengan ini maka kolaborasi antara kecakapan hidup dan agama, perpustakaan berbasis pesantren akan mampu membangun Kampung Cerdas Kampung Membaca.
Catatan:
Tulisan ini juga saya tulis di blog www.yusronfauzi.com
Read More

Selasa, 19 Mei 2015

Kenapa Harus Menitipkan Anak di RUMBI?

GURUMUDA.WEB.ID - Alhamdulillah, setiap hari selalu saja rumah saya didatangi tamu. Kalau bukan orang tua, ya pasti anak-anak yang ikut mengaji 'a ba tsa'.

Banyak keberkahan selama mereka ada di rumah. Benarlah adanya, jika rumah yang sering disinggahi tamu, yakin datang bersama rezekinya.

Tiap sore, anak-anak belajar mengaji: tahsin Qur'an, tahfiz, kitab kuning, dll. Usia mereka beragam, mulai dari 4 tahun sampai usia anak SMA.

Cukup menguras tenaga dan pikiran juga untuk menerapkan pola pembelajaran seperti apa yang harus digunakan. Sementara, kebanyakan saya menerapkan kurikulum secara kondisional dan mandiri. Artinya, disesuaikan dengan bagaimana situasi dan kondisi yang ada. Lebih ke improvisasi. Saya akui, jelas ini sebagai kelemahannya.

RUMBI itu...

Ada salah seorang orang tua santri yang anaknya masih berumur 4 tahun. Tiap sore ia harus dengantarkan anaknya mengaji ke rumah saya dengan jarak yang cukup jauh, karena berbeda Kampung. Sering pula ketika hujan, ia harus rela mengantar anaknya mengaji. Jalan yang licin, karena harus melewati pematangan menjadi perjuangan demi sang anak pintar mengaji.

Suatu hari, ia meminta saya untuk membuka jam belajar khusus buat anaknya di pagi hari, sekitar jam 9-an. Setelah bermusyawarah dengan istri, kami pun mengiyakan
Maka, dibukalah jam belajar pagi buat Denta, anak santri yang berumur 4 tahunan itu.
Read More