Tampilkan postingan dengan label Opini Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini Guru. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Oktober 2016

Upaya Kolaboratif Perpustakaan Sekolah

GURUMUDA.WEB.ID - Alhamdulillah, bagi penulis yang membutuhkan sedikit keahlian dalam menulis, dimuat di media massa, apalagi media yang cukup familiar sangat berbahagia dan bersyukur manakala karyanya dimuat.

Beberapa hari yang lalu, murid saya mengirimkan foto bahwa tulisan saya sedasng dibaca. Berikut tulisan yang dimuat di majalah kandaga.

Upaya Kolaboratif Perpustakaan Sekolah

Oleh: Roni Yusron Fauzi

Diwajibkannya para siswa untuk membaca buku 15 menit sebelum kegiatan pembelajaran sebagai salah satu penerapan program Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) yang dicanangkan Mendikbud, Anies Bawesdan, perlu diapresiasi oleh para stakeholder. (24/7)

Jangan salahkan jika siswa begitu enggan untuk membaca. Menyempatkan membaca buku beberapa menit saja tentu akan dirasakan bosan. Maka, diperlukan adanya pembenahan perpustakaan sebagai pusat referensi di sekolah.

Persoalan yang utama rendahnya minat baca di sekolah karena perpustakaan kurang tertata dengan baik dan sosialiasi pustakawan yang kurang inovasi. Seakan perpustakaan hanya menjadi kebutuhan tertier saja. Padahal fungsi perpustakaan adalah sebagai jantungnya sekolah.

Untuk memperbaiki persoalan ini, maka diperlukan upaya-upaya kolaboratif yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah.


Pertama, kerjasama dengan Taman Bacaan Masyarakat (TBM)


Saat ini eksistensi TBM sungguh sangat menggembirakan. Kegiatan di TBM tidak hanya membaca buku saja. Meminjam buku, lalu pulang. Tapi diisi dengan program-program tambahan seperti public speaking, bedah karya dan pelatihan menulis. Langkah seperti ini sebagai upaya mengikat pengunjung untuk selalu berada di  lingkungan TBM.

Pihak sekolah bisa meniru dan memodifikasi program di Taman Bacaan Masyarakat untuk bisa diterapkan di perpustakaan sekolah.

Kedua, Membuat Poster Edukatif 

Membuat Poster Edukatif sebagai implementasi pelajaran Seni Budaya & Keterampilan (SBK) ke dalam kehidupan sehari-hari. Poster atau pajangan hasil karya siswa tersebut bisa diisi dengan slogan motivasi berupa ajakan minat baca. Dengan harapan siswa dan guru lebih tergugah akan minat baca.

Ketiga, lengkapi dengan buku bebas 

Koleksi buku di perpustakaan sekolah lebih dominan pada buku kurikulum saja, padahal buku tersebut sudah sering menjadi pembahasan bersama guru.  Atau mengandalkan buku-buku dari pemerintah.

Buku bebas yang sifatnya mendidik seperti novel, kumpulan cerpen, majalah dan koran pun seyogyangya harus dijadikan prioritas. Dengan tujuan untuk menyegarkan pikiran siswa, juga supaya lebih bisa membuka pola pikir dan wawasan.

Tentunya untuk buku bebas ada penyaringan dari pustakawan. Melengkapi perpustakaan dengan buku bebas dengan harapan mencegah siswa supaya tidak bosan dalam membaca.

Jika ada perubahan yang signifikan  pengunjung perpustakaan sekolah yang meningkat, sudah jelas perpustakaan sekolah sudah diminati siswa. Semoga budaya membaca di Indonesia bisa berkembang ke depannya. (***)
 Majalah Kandaga Online

***
Artikel ini Dimuat di Majalah Kandaga  Edisi 73 | Agustus 2015)          


Read More

Rabu, 06 April 2016

Komunitas Guru Menulis

Menulis bagi guru seakan menjadi beban. Padahal menulis bagi guru seharusnya menjadi kebiasaan yang harus dinikmati di sela-sela rutinitas mengajar. Banyak alasan yang mendasar kenapa masih banyak guru yang tidak menyempatkan waktu untuk menulis walau satu hari saja.

Penulis yakini, sebagian besar guru tidak lagi menulis apa-apa selain menulis perangkat KBM. Yang sangat menyedihkan, ini tidak menimpa guru non bahasa tapi juga guru-guru yang mengampu mata pelajaran Bahasa  Indonesia.

Sebenarnya bila ada niat memperbaiki kualitas diri,banyak yang bisa diikhtiarkan. Menulis bisa menjadi lahan untuk memperbaiki kualitas seorang guru. Intelektualitas guru bisa dilihat sejauh mana ia senang menulis. Entah menulis opini di media massa atau melalui buku. Karena terciptanya tulisan buah daripada membaca.

Pengembangan budaya membaca dan menulis merupakan salah satu prinsip pengembangan pembelajaran pada saat menyusun perangkat pembelajaran. Maka, wajiblah bagi guru memasukkan pengembangan membaca dan menulis di setiap pengelolaan pembelajarannya.

Di media Koran cetak seperti Rubrik seperti Forum Guru di Pikiran Rakyat dan Guru Menulis di Republika seharusnya ditangkap secara cepat untuk kalangan guru. Ini peluang sangat prospektif untuk menggerakkan guru supaya senang menulis. Memberikan ruang khusus bagi guru untuk menuangkan buah pemikirannya.

Apalagi salah satu faktor untuk kenaikan pangkat dibutuhkan karya tulis. Tanpa pembiasaan menulis jangan harap karya tulis bisa tuntas, terkecuali dibuatkan oleh orang lain. Maka, sudah seharusnya guru ikut bergabung dengan komunitas menulis guru yang sudah ada atau membuat komunitas sendiri dengan rekan guru yang lain. Yang tak lain saling berbagi dan mengembangkan budaya menulis.

Guru-guru yang melek internet sangat ramai membuat komunitas guru menulis. Entah di blog atau membuat grup khusus di social media. Sayangnya, hanya sedikit yang meresponnya. Padahal komunitas guru menulis seperti ini menjadi ajang pembelajaran. Disana guru akan siap belajar menerima kritikan, masukan, dan bagaimana seharusnya menulis yang baik (layak dibaca).

Semoga dengan komunitas guru menulis, tidak ada anggapan bahwa guru malas (tidak bisa) menulis.

***
Opini di atas ditulis pada tanggal 24 Januari 2014. Yang pernah dikirimkan ke Pikiran Rakyat, namun tidak dimuat.

Ditulis oleh:
 *) Roni Yusron Fauzi
Guru MI & MTs IQRO Leles Garut
Content Writing blog www.gurumuda.web.id

Read More