Tampilkan postingan dengan label Nulis Kalem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nulis Kalem. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 September 2017

Fadil dan Kerupuk Kuning

GURUMUDA.WEB.ID - Ba'da Jum'at ada agenda musyawarah Kecamatan Bersholawat di Ponpes Tarbiyatul Athfal (Pangersan Ajengan Iom). Menunggu jemputan, saja janjian di warung es kelapa depan Wihoga.

Mata saya terusik dengan mendekatnya seorang anak yang medorong roda, isinya kerupuk kuning.
Saya hentikan bocah itu untuk saya ajak ngobrol.

Fadil. Pernah sekolah di SD Karangtengah II. Tapi ia tidak melanjutkan ke SMP.
"Kenapa nggak mau sekolah?" tanya saya.

" Ah alim we..." singkatnya tersipu.

Fadil. Yatim. Ia tiap hari berkeliling jualan kerupuk kuning yang digoreng ibunya. Itu pun bukan milik mereka. Tapi harus setor ke home industri dimana ibunya bekerja.

Harga kerupuk kuning dari pabrik Rp. 4.500. Fadil menjualnya Rp. 5.000. Lumayan Fadil dapat laba per bungkus lima ratus. Kalau laku semua ia dengan bersyukur bisa bawa pulang ke rumah Rp. 15.000.

"Lima belas ribu buat apa? Jajan?" Saya berondong pertanyaan.

"Buat beli beras,"

Fadil mendorong roda kecilnya dari Kampung Salamanjah, Kadungora menuju Leles, sampai Leuwigoong. Lumayan jauh untuk ukuran anak-anak.

--->> bersambung
Read More

Sabtu, 17 Juni 2017

KURIKULUM MANDIRI GURU MUDA

GURUMUDA.WEB.ID - Hebohnya isu Full Day School bikin marah bagi pemerhati pendidikan. Kebijakan sekolah selama lima hari yang direncanakan Pak Menteri dengan durasi delapan jam setiap harinya, ternyata  tidak hanya memicu kekhawatiran di kalangan siswa, tetapi juga para guru. 

Ternyata merebaknya opini di masyarakat, bikin marah juga bagi Pak Menteri sang pembuat kebijakan, karena demo opini dari para tokoh pendidikan terus menyebr di media sosial.


Menanggapi semacam ini, saya sih nyantai-nyantai aja, karena saat ini saya sedang/sudah merancang formula kurikulum mandiri ala guru muda yang insya Allah semua pihak akan setuju.

Kenapa saya begitu yakin Kurikulum Mandiri ini akan di setujui semua pihak???

Dalam kurikulum mandiri yang saya buat ini ada kolaborasi antara teori dan praktik yang berbeda dengan saat ini.

Teori dan Praktik harus Apik
Ilmu dan Amal harus Bersama

Dengan kurikulum mandiri ala guru muda ini anak tak akan jenuh belajar meskipun fasilitas sekolah/madrasah kurang memadai. Dimana kurang meratanya fasilitas pendidikan di daerah, apalagi di pedalaman nusanatra tercinta ini.

Ada strategi lain untuk siswa yang tak melulu belajar di dalam kelas. Diantaranya penilaian anak  tidak melulu mengedapankan nilai akademik saja. Melainkan ada nilai tambah bagi mereka siswa yang lemah nilai akademiknya.

Bisa jadi, dengan kurikulum mandiri ala guru muda ini, siswa yang punya IQ pas-pasan, tetapi mempunyai hafalan Qur'an, katakanlah 3 juz, bisa menjadi rangking ke-1.

Rangking ke-2 nya, siswa yang bisa membuat aplikasi android. Game, misalnya...

Keren bukan???

Insya Allah rancangan metoda Kurikulum Mandiri Guru Muda ini insya Allah dibukukan...

#gurumuda
#kurikulumgurumuda
#gurumudainstitute
Read More

Jumat, 03 Maret 2017

Blusukan ke Kampung Pataruman

GuruMuda.web.idPataruman, salah satu kampung di wilayah Desa Talagasari, Kecamatan Kadungora, Garut. Sebuah kampung yang memiliki sejarah panjang jika dikaitkan dengan jaman penjajahan atau gerombolan.
Gapura Selamat Datang Kampung Pataruman

Malam ini, lepas ratiban dan shalawatan yang menjadi rutinitas mengisi jadwal santri di malam Jum'at, saya menyambangi Kampung Pataruman yang berbatasan dengan kampung Cihaur. Sekedar bersilaturahim sama orangtuanya anak-anak santri.
Malam Jum'at diisi dengan Ratiban dan Istighasah Shalawat
Baru kali ini blusukan malam-malam di kampung dulunya sebagai basis pertarungan pribumi dan penjajah. Karena biasanya saya jambangi orang tua santri yang ada di Kampung Lunjuk Girang.

Saya maklumi ketika kedatangan saya disambut dengan kekagetan penuh tanya oleh orang tua santri. 

Wajar karena ini pertama kalinya mengunjungi rumah anak-anak. Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.

Saya awali mengunjungi rumah orang tua Sandi. 

"Assalamu'alaikum..."

Baru dapat jawaban salam ketiga kalinya. Saya yakin penghuni rumah ada.

Yang membuka pintu Sandi. Saya mencoba untuk tidak memperlihatkan bahwa saya tahu santri ini cukup kaget dengan kedatangan saya. Berhubung hampir sebulan ini Sandi tak lagi mengaji. Ia langsung kabur ke kamarnya.

Bapak,ibu dan adik Sandi tak kalah kaget. Mereka langsung mempersiapkan karpet untuk saya duduki. Ayahnya yang sedang menonton pertandingan antara PERSIB vs PBFC langsung mempersilakan.

"Silakan, A, duduk!"

Tidak ada obrolan yang sangat serius yang saya awali. Pun dengan orang tuanya. Tampaknya mereka masih bingung, ada apa dengan kedatangan saya.

"Saya hanya ingin bersilaturahim, mumpung saya lagi nyantai." saya mencoba untuk menjawab kebingungan mereka.

"Oh iya, A" singkat

Tak lama saya di sana. Karena harus menuju ke rumah santri yang lain. Dan saya pilih Agis. Si yatim yang cukup "plus" ini menjadi target blusukan saya selanjutnya.

Saya disambut langsung ibunya yang buruh tani. Sementara Agis di rumah neneknya, di samping rumahnya.

Seperti semula, kekagetan ibunya Agis dapat saya lihat. Pun alasan sama ketika berkunjung ke rumah orang tua Sandi. Hanya bersilaturahim saja.

Namun, obrolan dengan ibunya Agis begitu mengalir. Demi menghidupi sehari-hari, ibunya Agis rela menjadi pemulung sisa yang jatuh ke tanah, dari para petani yang sudah panen. Ia lakukan dari kampung ke kampung, bahkan lintas desa.

Dari blusukan malam ini, saya banyak sekali menemukan ilmu dan hikmah yang hanya saya rasakan. Setidaknya dengan tulisan ini saya merekam jejak secuil perjalanan indahnya bersilaturahim.

Read More