Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Maret 2017

Blusukan ke Kampung Pataruman

GuruMuda.web.idPataruman, salah satu kampung di wilayah Desa Talagasari, Kecamatan Kadungora, Garut. Sebuah kampung yang memiliki sejarah panjang jika dikaitkan dengan jaman penjajahan atau gerombolan.
Gapura Selamat Datang Kampung Pataruman

Malam ini, lepas ratiban dan shalawatan yang menjadi rutinitas mengisi jadwal santri di malam Jum'at, saya menyambangi Kampung Pataruman yang berbatasan dengan kampung Cihaur. Sekedar bersilaturahim sama orangtuanya anak-anak santri.
Malam Jum'at diisi dengan Ratiban dan Istighasah Shalawat
Baru kali ini blusukan malam-malam di kampung dulunya sebagai basis pertarungan pribumi dan penjajah. Karena biasanya saya jambangi orang tua santri yang ada di Kampung Lunjuk Girang.

Saya maklumi ketika kedatangan saya disambut dengan kekagetan penuh tanya oleh orang tua santri. 

Wajar karena ini pertama kalinya mengunjungi rumah anak-anak. Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.

Saya awali mengunjungi rumah orang tua Sandi. 

"Assalamu'alaikum..."

Baru dapat jawaban salam ketiga kalinya. Saya yakin penghuni rumah ada.

Yang membuka pintu Sandi. Saya mencoba untuk tidak memperlihatkan bahwa saya tahu santri ini cukup kaget dengan kedatangan saya. Berhubung hampir sebulan ini Sandi tak lagi mengaji. Ia langsung kabur ke kamarnya.

Bapak,ibu dan adik Sandi tak kalah kaget. Mereka langsung mempersiapkan karpet untuk saya duduki. Ayahnya yang sedang menonton pertandingan antara PERSIB vs PBFC langsung mempersilakan.

"Silakan, A, duduk!"

Tidak ada obrolan yang sangat serius yang saya awali. Pun dengan orang tuanya. Tampaknya mereka masih bingung, ada apa dengan kedatangan saya.

"Saya hanya ingin bersilaturahim, mumpung saya lagi nyantai." saya mencoba untuk menjawab kebingungan mereka.

"Oh iya, A" singkat

Tak lama saya di sana. Karena harus menuju ke rumah santri yang lain. Dan saya pilih Agis. Si yatim yang cukup "plus" ini menjadi target blusukan saya selanjutnya.

Saya disambut langsung ibunya yang buruh tani. Sementara Agis di rumah neneknya, di samping rumahnya.

Seperti semula, kekagetan ibunya Agis dapat saya lihat. Pun alasan sama ketika berkunjung ke rumah orang tua Sandi. Hanya bersilaturahim saja.

Namun, obrolan dengan ibunya Agis begitu mengalir. Demi menghidupi sehari-hari, ibunya Agis rela menjadi pemulung sisa yang jatuh ke tanah, dari para petani yang sudah panen. Ia lakukan dari kampung ke kampung, bahkan lintas desa.

Dari blusukan malam ini, saya banyak sekali menemukan ilmu dan hikmah yang hanya saya rasakan. Setidaknya dengan tulisan ini saya merekam jejak secuil perjalanan indahnya bersilaturahim.

Read More

Kamis, 17 Maret 2016

Pak Roni Ayahku juga kan?

www.gurumuda.web.id - - - SEPERTI biasa, sebelum Ashar rumah saya selalu dikunjungi anak-anak kampung untuk mengaji. Rumah yang tak begitu luas dirasa cukup untuk menampung anak-anak yang jumlahnya sekitar 75an, walau ruangan dapur ikut dipakai juga. Cukup sesak memang. Tapi tak menyurutkan semangat mereka untuk terus mendalami ilmu agama dari pengasuh yang masih miskin ilmu ini.

Jadwal hari Kamis adalah Mahabbah ar Rasul (Mencintai Nabi). Ini merupakan pelajaran yang sangat disukai anak-anak. Terlihat dari antusias mereka pada apa yang saya kisahkan tentang perjalanan manusia termulia, panutan sekalian alam, yang diutus sebagai rahmatan lil alamin, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaih wasallam. Mereka sangat khusyuk mendengarkan kisah Nabi ketika Perang Badar, mereka terpesona pada cerita tentang keistimewaan Rasulullah. Budi pekerti Nabi yang harus diteladani.

Kamis yang senja ketika itu, saya mengisahkan Nabi shalallahu ‘alaih wasallam dan Anak Yatim.
Suatu hari Rasulullah SAW., keluar dari rumahnya untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri. Saat itu beliau menyaksikan anak-anak yang tengah bermain bersuka cita menyambut hari kemenangan. Diantara anak-anak yang tengah bermain itu, beliau SAW mendapati seorang anak yang tengah bersedih duduk sendiri sambil menundukkan kepalanya. Pakaian yang ia kenakan tak layak untuk dipakai untuk seusianya yang ketika hari raya menginginkan pakaian yang bagus juga baru.
Rasulullah kemudian menghampiri anak itu, dengan lembut nabi mengelus kepala yang kusam dengan lembut.
Lalu beliau SAW bertanya, “Wahai Anakku, apa gerangan yang membuatmu bersedih hati di saat orang lain bersuka cita pada hari ini?”
Dengan mata yang masih nanar anak kecil itu menjawab, “Ya Rajul (wahai lelaki), ayahku telah mati syahid di medan pertempuran bersama Rasulullah. Ibuku menikah lagi. Ayah tiriku merampas sisa harta peninggalan ayahku, lalu mengusir aku. Sehingga aku tak punya makanan, minuman, pakaian, apalagi tempat tinggal,” 
Anak itu masih menunduk dan menangis, tidak tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah penghulu para nabi dan rasul, Rasulullah SAW.
“Hari ini kusaksikan teman-temanku bersuka cita karena mereka memiliki ayah, sedangkan aku…,” lanjutnya.
Mengajak Yatim Dhuafa makan di @WarungDjawara. (7/3/2016)

Rasul mendekap anak itu, lalu berkata, “Wahai anakku, apakah engkau ridha jika aku menjadi ayahmu, 'Aisyah sebagai ibumu, Ali pamanmu, Fathimah bibimu, lalu Hasan dan Husain menjadi saudaramu?”
Anak itu menengadahkan kepalanya, ia terkejut. Ternyata lelaki yang mendekapnya itu adalah panutannya, Rasulullah SAW.
“Tidak ada alasan untuk tidak ridha wahai Rasulullah,” jawab anak itu tersenyum bahagia.
Lalu Rasulullah mengajak anak itu ke kediamannya, dan meminta kepada 'Aisyah untuk memandikannya serta memberikan pakaian yang bagus. Juga makanan yang lezat.
Anak kecil yang tadi berpakain lusuh dan berwajah kusam itu kini berubah terlihat bersih dan ceria, rambutnya tersisir rapi tentunya mengenakan pakaian bagus dari Rasul.
Ia keluar dengan senyum mengembang, bahagia. Teman-temanya yang sedang bermain dikejutkan dengan penampilannya yang telah berubah.
“Tadi kau bersedih, kenapa sekarang kau tampak gembira?” Tanya salah seorang dari mereka.
“Tadi aku memang lapar, tapi sekarang perut ini kenyang. Kalian lihat tadi aku tak berpakaian yang layak, tapi sekarang kukenakan pakaian yang bagus. Kalian mengetahuinya kalau aku adalah yatim, tapi saat ini Rasulullah telah menjadi ayahku, 'Aisyah ibuku, 'Ali dan Fathimah menjadi paman dan bibiku, sedang Hasan dan Husain menjadi saudaraku…” matanya berkaca-kaca.
“Apakah aku tak pantas untuk bahagia di hari kemenangan ini?“ lanjutnya

BELUM berakhir saya mengisahkan anak yatim bersama Rasul, saya dikagetkan dengan sesegukan salah satu santri saya, saya belum tahu persis siapa yang sedang menangis, karena teeralang oleh teman di sampingnya. Lagi pula ia menunduk. Yang pasti itu suara perempuan. Tiba-tiba ia mendekati saya, dengan berlinang ia berucap, “Pak Roni ayahku juga, kan?”

Saya mengiyakan. Kepalanya saya elus dengan penuh kasih. Entah kenapa air mata saya pun ikut mengalir, semua anak-anak yang hadir ikut menangis melihat apa yang dilakukan Kintan. Mereka seolah mengerti apa, padahal Kintan belum bercerita kalau ia seorang anak yatim.

“Kenapa kamu menangis, Neng?” saya coba menanyakan untuk menjawab kepanasaran.
“Aku juga tidak jauh beda sama yang Pak Roni ceritakan, aku anak yatim,” jawabnya sembari memeluk saya.
“Baiklah, mulai saat ini Neng adalah anak Abi (bapak),” kata saya.
Mulai saat itu, saya menspesialkan Kintan, ketimbang anak-anak kampung lain yang berayah. Terkadang bila ada uang hasil dari honor sebagai seorang guru honorer selalu saya sisihkan untuk Kintan. Walau tak banyak, namun ini menjadi anggaran wajib yang harus dikeluarkan perbulan. Tentu dengan bermusyawarah dengan istri.

Janji nabi tak pernah keliru. “”Barang siapa yang meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang, maka Allah akan menuliskan kebaikan pada setiap lembar rambut uyang disentuh tangannya.” Dan ini begitu sangat saya rasakan. Saya teringat ketika itu, sisa uang honor saya tinggal Rp. 20.000 dan saya lupa kalau bulan itu saya belum memberi jatah buat Kintan. Karena ingat pada janji saya, uang itu pun saya berikan untuk Kintan.

Rezeki pasti sudah diatur. Kebaikan pun pasti dibalas. Alhamdulillah, tanpa saya duga sebelumnya. Kepala Sekolah dimana saya mengajar memberikan amplop, padahal gaji sudah diberikan dua minggu yang lalu. “Lalu ini uang apa?” saya coba mengira-ngira.
“Ini uang hasil jasa pengetikan soal UTS kemarin,” kata Pak Kepala seolah mengerti kebingungan saya.
Saya buka amplop yang masih tertutup rapat itu. Uang sebesar 175.000 bagi saya bukan uang yang sedikit. Terima kasih Ya Allah, Engkau sebaik-baiknya Pemberi. Apakah ini keberkahan dari apa yang saya lakukan untuk anak yatim seperti Kintan? Wallahu ‘alam.


***
Tulisan ini pernah saya publish di blog saya sebelumnya gurumuda.info (udah expired) pada tanggal 20 Oktober 2012

Read More

Jumat, 12 Juli 2013

Pasti Bisa: Aku Ingin Jadi Satpam

GURUMUDA.WEB.ID - Suatu sore, di Madrasah Nurul Musthofa seperti biasa puluhan anak-anak dari lima kampung berkumpul berharap bisa membaca a ba tsa. Hujan mengguyur sejak siang, namun tak mengikiskan semangat mereka demi sebuah ilmu yang mungkin mereka pun tak tahu tujuan mereka mengaji.

Pun dengan Iki, Muhammad Rizki lengkapnya. Usianya empat tahun, tahun ini ia bersikeras untuk masuk PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang jauh dari rumahnya. Ia selalu diantar ibunya yang setia menunggu sampai pengajian usai.

Madrasah Nurul Musthofa tepat di tengah sawah, hanya dua bangunan yang berdiri tegak di sana. Bila hujan mengguyur seperti sore itu, sudah dipastikan mereka akan berbecek melintasi galengan (pematang) sawah yang cukup licin jalannya. 

Tak jarang Iki selalu minta digendong ibunya untuk menuju rumah keduanya. Ya, bagi Iki tempat ngajinya terasa rumah kedua baginya. Ia bebas melakukan apa saja. Membaca buku walau ia tak tahu apa yang ia baca. Melihat gambarnya saja ia sudah puas.

Hari Sabtu ada pelajaran plus di Madrasah Nurul Musthofa,  Public Speaking. Iki tak tahu apa itu public speaking. Yang ia ketahui, tiap hari Sabtu selalu saja ia disuruh untuk maju ke depan, sekedar memperkenalkan diri dan seputar cita-citanya.

"Sekarang giliran Iki yang maju ke depan!" suruh pengasuh.
Masih malu, namun terpaksa ia maju ke depan. Ia melihat mata kawan-kawannya yang tertuju padanya.

"Baiklah, silakan Iki perkenalkan nama. orang tua, alamat dan apa cita-citanya!" kembali pengasuh menyuruhnya.

Tergagap.

"Na..na..ma.. sa..sa..ya... Muhammad Rizki. Alamat saya di kampung Lunjuk Girang. Orang tua saya bernama Bapak Pandi dan Ibu Yuyum," 

Kini ia bisa menguasai dirinya. Namun, ia diam.

"Cita-citanya apa?" tanya kawan-kawannya serempak.

"Aku ingin jadi Satpam..." semua menertawakan. Iki hanya terdiam. Bingung. Kenapa teman-temannya menertawakannya. 

Untunglah pengasuh mengendalikan kondisi yang sudah sangat ribut dengan ocehan-ocehan yang tak dimengerti Iki.

"Wah hebat dong! Tugas satpam itu untuk mengamankan. Iki bisa menjadi pengaman bangsa Indonesia dengan cara menjadi satpam"  hibur pengasuh. Iki tersenyum bangga.

Read More