Tampilkan postingan dengan label Guru Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guru Menulis. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Oktober 2017

Inilah Caranya Biar Guru Dikangenin Siswa

GURUMUDA.WEB.ID - Salah satu faktor penunjang siswa memahami pelajaran adalah siswa senang, enjoy dulu sama guru mata pelajaran (mapel) tersebut. Mau pelajaran Matematika sekalipun yang kebanyakan siswa ‘kurang suka’ sama pelajaran yang satu ini, tapi jika gurunya dikangenin siswa, maka biasanya siswa akan mudah dan berusaha untuk memahami pelajaran angka itu.


Dikangein Siswa, siapa yang nggak mau?

Termasuk saya dan juga Anda guru-guru yang siap naik kelas menjadi seorang pembelajar. Guru yang tak merasa puas dengan ilmu yang dimiliknya saat ini, tetapi guru yang terus mengupgrade keilmuan dan wawasannya. 

Masalah yang sering dihadapi guru, bagaimana caranya pelajaran yang kita sampaikan mudah diterima dan dipahami oleh anak-anak. Padahal cara penyampaian saat menerangkan pelajaran sangat maksimal.

Pernahkah Anda bertanya sama siswa, “kangen nggak sama Bapak?” , “kangen nggak sama Ibu?”

Tahadduts bi ni’mah, saya termasuk guru yang selalu minta kritik dan saran dari orang lain, termasuk dari anak-anak. Setidaknya ada masukan ketika kita anggap itu benar, padahal bisa jadi itu adalah kesalahan fatal. Jadi terbuka kepada siswa adalah perkara yang sudah seharusnya dilakukan guru, bertanya apakah mereka kangen sama kita atau nggak.

Jika tidak ada jawaban, apalagi ada beberapa dari mereka yang berbisik menandakan mereka nggak “ngeuh” bahkan paling parah mereka benar-benar nggak kangen sama kehadiran kita. Ini menjadi maslah buat kita selaku guru. Dan ini mesti dicarikan solusinya. 

Dengan cara apa?

Yang saya lakukan adalah pertama mencoba untuk memahami letak kesalahan saya. Tidak serta merta kita menyalahkan mereka gegara mereka tidak kangen sama kita.

Kedua, perlakukan mereka benar-benar menjadi anak kita, seperti anak kandung. Tentu ada pembatasan yang berlaku. 

Ketiga, ajak mereka berunding saat ada ada masalah di kelas. Mencari solusinya.

Keempat, perbaiki cara mengajar kita. Karena anak-anak menilai guru tidak hanya di dalam kelas saja. Tetapi, saat di luar kelas mereka terus memantau apakah kita layak menjadi guru sekaligs orang tua bagi mereka.

Setidaknya ada 4 Cara Biar Guru Dikangenin Siswa yang bisa saya bagikan.
Semoga bermanfaat.

Read More

Sabtu, 23 September 2017

Fadil dan Kerupuk Kuning

GURUMUDA.WEB.ID - Ba'da Jum'at ada agenda musyawarah Kecamatan Bersholawat di Ponpes Tarbiyatul Athfal (Pangersan Ajengan Iom). Menunggu jemputan, saja janjian di warung es kelapa depan Wihoga.

Mata saya terusik dengan mendekatnya seorang anak yang medorong roda, isinya kerupuk kuning.
Saya hentikan bocah itu untuk saya ajak ngobrol.

Fadil. Pernah sekolah di SD Karangtengah II. Tapi ia tidak melanjutkan ke SMP.
"Kenapa nggak mau sekolah?" tanya saya.

" Ah alim we..." singkatnya tersipu.

Fadil. Yatim. Ia tiap hari berkeliling jualan kerupuk kuning yang digoreng ibunya. Itu pun bukan milik mereka. Tapi harus setor ke home industri dimana ibunya bekerja.

Harga kerupuk kuning dari pabrik Rp. 4.500. Fadil menjualnya Rp. 5.000. Lumayan Fadil dapat laba per bungkus lima ratus. Kalau laku semua ia dengan bersyukur bisa bawa pulang ke rumah Rp. 15.000.

"Lima belas ribu buat apa? Jajan?" Saya berondong pertanyaan.

"Buat beli beras,"

Fadil mendorong roda kecilnya dari Kampung Salamanjah, Kadungora menuju Leles, sampai Leuwigoong. Lumayan jauh untuk ukuran anak-anak.

--->> bersambung
Read More

Sabtu, 17 Juni 2017

KURIKULUM MANDIRI GURU MUDA

GURUMUDA.WEB.ID - Hebohnya isu Full Day School bikin marah bagi pemerhati pendidikan. Kebijakan sekolah selama lima hari yang direncanakan Pak Menteri dengan durasi delapan jam setiap harinya, ternyata  tidak hanya memicu kekhawatiran di kalangan siswa, tetapi juga para guru. 

Ternyata merebaknya opini di masyarakat, bikin marah juga bagi Pak Menteri sang pembuat kebijakan, karena demo opini dari para tokoh pendidikan terus menyebr di media sosial.


Menanggapi semacam ini, saya sih nyantai-nyantai aja, karena saat ini saya sedang/sudah merancang formula kurikulum mandiri ala guru muda yang insya Allah semua pihak akan setuju.

Kenapa saya begitu yakin Kurikulum Mandiri ini akan di setujui semua pihak???

Dalam kurikulum mandiri yang saya buat ini ada kolaborasi antara teori dan praktik yang berbeda dengan saat ini.

Teori dan Praktik harus Apik
Ilmu dan Amal harus Bersama

Dengan kurikulum mandiri ala guru muda ini anak tak akan jenuh belajar meskipun fasilitas sekolah/madrasah kurang memadai. Dimana kurang meratanya fasilitas pendidikan di daerah, apalagi di pedalaman nusanatra tercinta ini.

Ada strategi lain untuk siswa yang tak melulu belajar di dalam kelas. Diantaranya penilaian anak  tidak melulu mengedapankan nilai akademik saja. Melainkan ada nilai tambah bagi mereka siswa yang lemah nilai akademiknya.

Bisa jadi, dengan kurikulum mandiri ala guru muda ini, siswa yang punya IQ pas-pasan, tetapi mempunyai hafalan Qur'an, katakanlah 3 juz, bisa menjadi rangking ke-1.

Rangking ke-2 nya, siswa yang bisa membuat aplikasi android. Game, misalnya...

Keren bukan???

Insya Allah rancangan metoda Kurikulum Mandiri Guru Muda ini insya Allah dibukukan...

#gurumuda
#kurikulumgurumuda
#gurumudainstitute
Read More

Rabu, 24 Mei 2017

Guru Muda Ikutan Lagi Lomba Menulis di GURARU 2017

GURUMUDA.WEB.ID - Guru Era Baru atau Guraru bagi Guru Muda menjadi tempat berbagi dan belajar bersama guru-guru di Indonesia. Guraru bisa menjadi lahan untuk belajar menulis bagi guru yang hendak membiasakan diri menjadi penulis.

Banyak sekali pengalaman dan ilmu baru di Guraru. Saya bisa berkawan dengan seorang guru inspiratif, berprestasi dan kreatif. Padahal beum bertemu di kehidupan nyata. Sebutlah Guru Besar (guru yang berbadan besar) Pak Wijaya Kusumah atau biasa disapa Om Jay, atau Pak Dedi Dwitagama, Pemenang Guraru Award 2012.

Selain di blog Guru Muda ini, saya sering pula menulis di GURARU. Dari berkah suka menulis, guraru pun memberikan reward kepada guru muda, diantaranya:






Untuk tahun 2017 ini, kembali saya mengikuti lomba menulis guru ini. Tak lain sebagai motivasi saya untuk terus menulis.

Berikut Judul yang saya ikut sertakan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru:

Go Guru Digital dengan Perangkat yang Tepat

http://guraru.org/guru-berbagi/go-guru-digital-dengan-perangkat-yang-tepat/
klik gambar untuk membaca artikelnya

 Jangan lupa vote dan memberikan komentar/kritiknya untuk kemajuann kualitas menulis Guru Muda.
Read More

Rabu, 04 Januari 2017

Gurusiana: Solusi Bagi Guru yang Belum Memiliki Blog

GuruMuda.web.id - Bagi guru blogger, guru yang suka ngeblog, pastinya sudah terbiasa menulis atau posting di blog pribadi. Saya pun demikian. Menulis seputar pendidikan dan dakwah dituangkan di blog Guru Muda tercinta ini dengan alamat www.gurumuda.web.id.

Namun, banyak rekan sejawat yang masih belum punya blog. Banyak pula alasannya. Salah satu alasannya:

“Saya nggak bisa membuat blognya, Pak?”

Kalau saya ada waktu renggang, saya sering membuatkan blog rekan guru dan juga dosen secara FREE. Tujuannya supaya mereka aktif menulis di blog. Sayang kalau mereka menulis, apalagi yang panjang-panjang hanya ditulis di kronologi faceboknya saja. Padahal, tulisannya akan terus dihimpit dengan tulisan baru.

Adalah GURUSIANA. Yang menurut hemat saya bisa dijadikan sebagai tempat menuangkan ide tulisan, bisa fiksi maupun non fiksi. Tulisan perdana saya berjudul Selingkuh Bu Sonia. Cerita pendek yang saya tulis ulang di blog Guru Muda. Cerita yang sangat pendek sekali.

Ada beberapa kategori tulisan di Gurusiana:
- Opini
- PTK
- Best Practice
- Reportase
- Kolom
- Cerpen
- Resensi
- Parenting

Tampilannya seperti di bawah ini:



Lalu, bagaimana cara daftar di Gurusiana, Pak?

Untuk daftar di Gurusiana sangatlah gampang:
1. Sila untuk mengunjungi gurusiana.id atau silakan ketik di Pencarian Google "gurusiana.id". Jangan lupa KLIK ya...


2. Silakan nikmati dulu tulisan hasil karya guru. Jika sudah membaca artikel para guru, apalagi cerpen Cerpen Guru Muda Selingkuh Bu Sonia,
Silakan untuk meng-klik Daftar, seperti di bawah ini:


3. Anda akan diarahkan ke halaman pendaftaran:

Silakan isi:
- Nama
- Alamat Email
- Telepon
- Password

Catatan: Jangan lupa klik juga "Saya bukan robot". Lalu KLIK Register.

4. Cek Email
Jika tidak ada di kotak masuk, silakan cek di SPAM. Klik tulisan "Verifikasi Akun Sekarang Klik Disini"


5. SELAMAT
Anda sudah bisa menulis di gurusiana dan bisa mengedit data pribadi.



Salam Aktif Menulis!!!

Eitsss... Tunggu dulu

Ternyata di Gurusiana, kita tidak hanya bisa menulis saja. Menyisipkan video pun sangat-sangat bisa. Tulisan Pak Luki Burhansyah dengan judul "Tutorial Cara Membenamkan Vidio di Gurusiana" bisa membantu.

Selain menulis, Anda bisa menambahkan video sebagai penguat artikel. Selamat berkarya!!!

Semoga Bermanfaat.



Read More

AGUPENA: Wadahnya Guru Penulis Indonesia

GuruMuda.web.id - Pentingnya guru membudayakan menulis menjadi tugas penting bagi guru yang lainnya untuk mewadahi guru penulis atau calon penulis. Maka, diperlukan organisasi untuk memfasilitasinya.

Asosiasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA) adalah salah satu organisasi nonprofit di Indonesia yang anggotanya adalah para guru/pensiunan guru, dosen/pensiunan dosen dan tenaga kependidikan/pensiunan tenaga kependidikan yang memiliki minat dalam kepenulisan.

AGUPENA yang berkedudukan di Kota Tangerang, Banten ini berdiri sejak 28 November 2006 di Jakarta. Achjar Chalil (almarhum) adalah pendiri dan sekaligus ketua umum pertama.

Achjar Chalil, S.Pd (alm)

Tujuan dibentuknya AGUPENA untuk membantu pemerintah dalam rangka membangun peradaban dan mencerdaskan kehidupan bangsa, melalui kegiatan penulisan karya tulis: fiksi atau nonfiksi, karya ilmiah maupun karya sastra, serta bahan ajar yang mengandung nilai-nilai agama, moral, etika, estetika, akhlak mulia, pengembangan dan penguasaan teknologi. Ini selaras dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003: Tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen.

AGUPENA Didirikan oleh Para Pemenang Lomba Penulisan Naskah Buku Bahan Bacaan

Atas usulan dan dukungan Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) yang saat itu dijabat oleh Prof. DR. Fasli Jalal, AGUPENA didirikan pertama kali pada tanggal 28 November 2006 di Jakarta oleh para Pemenang Lomba Penulisan Naskah Buku Bahan Bacaan yang diselenggarakan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

AGUPENA ini bersifat keilmuan, profesional, dan mandiri dengan memiliki tiga fungsi:

Pertama, sebagai wadah persatuan, pembinaan dan pengembangan guru penulis Indonesia.
Kedua, sebagai wadah partisipasi aktif profesional guru penulis dalam usaha menyukseskan pembangunan nasional. 
Ketiga, sarana penyalur aspirasi anggota dan komunikasi sosial timbal-balik antarorganisasi profesi, kemasyarakatan, dan pemerintah. 


Kegiatan dan Usaha AGUPENA

Tentunya sebuah organisasi harus di dukung dengan kegiatan dan usahanya. Adapun Kegiatan dan Usaha AGUPENA sebagai berikut:
  • Memberikan  pembinaan dan pelatihan kepada para guru, dosen, dan tenaga kependidikan agar mampu menulis bahan bacaan, buku pelajaran, karya ilmiah dalam bentuk tulisan yang selaras dengan tujuan pendidikan Nasional sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen;
  • Membantu Pemerintah mendorong peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara;
  • Menjalin kerja sama dengan lembaga pemerintah dan swasta di dalam maupun di luar negeri bagi kemajuan dan kesejahteraan serta peningkatan kualitas profesi guru penulis;
  • Menerima/melayani guru, dosen, dan tenaga kependidikan yang menulis bahan bacaan yang tidak bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta diperuntukan bagi peserta didik dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi;
  • Menyelenggarakan penelitian, pelatihan, dan pengembangan di bidang ilmu pengetahuan serta studi banding keilmuan dan profesi;
  • Melakukan kegiatan dan usaha lain yang halal yang dapat mewadahi dan menghidupi kegiatan organisasi dan para anggotanya.

Keanggotaan AGUPENA

Ada tiga kategori keanggotaan di AGUPENA, yaitu :

1. Anggota Biasa
Guru/Pensiunan Guru
Dosen/Pensiunan Dosen
Tenaga Kependidikan/Pensiunan Tenaga Kependidikan
2. Anggota Luar Biasa
Mereka yang masih mengikuti pendidikan sebagai calon guru dan siapa pun yang memiliki perhatian kepada dunia kepenulisan yang relevan dengan pendidikan
3. Anggota Kehormatan
Mereka yang karena keahliannya, sifat pekerjaannya, atau kedudukannya oleh organisasi dipandang dapat memberikan partisipasi bagi perkembangan dan kemajuan AGUPENA.
Mereka yang karena minat dan kegiatannya telah berjasa terhadap perkembangan dunia kepenulisan
***
Untuk mengetahui hasil karya tulis Guru Indonesia sila untuk mengunjungi situs AGUPENA: www.agupena.or.id

Read More

Selasa, 11 Oktober 2016

Upaya Kolaboratif Perpustakaan Sekolah

GURUMUDA.WEB.ID - Alhamdulillah, bagi penulis yang membutuhkan sedikit keahlian dalam menulis, dimuat di media massa, apalagi media yang cukup familiar sangat berbahagia dan bersyukur manakala karyanya dimuat.

Beberapa hari yang lalu, murid saya mengirimkan foto bahwa tulisan saya sedasng dibaca. Berikut tulisan yang dimuat di majalah kandaga.

Upaya Kolaboratif Perpustakaan Sekolah

Oleh: Roni Yusron Fauzi

Diwajibkannya para siswa untuk membaca buku 15 menit sebelum kegiatan pembelajaran sebagai salah satu penerapan program Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) yang dicanangkan Mendikbud, Anies Bawesdan, perlu diapresiasi oleh para stakeholder. (24/7)

Jangan salahkan jika siswa begitu enggan untuk membaca. Menyempatkan membaca buku beberapa menit saja tentu akan dirasakan bosan. Maka, diperlukan adanya pembenahan perpustakaan sebagai pusat referensi di sekolah.

Persoalan yang utama rendahnya minat baca di sekolah karena perpustakaan kurang tertata dengan baik dan sosialiasi pustakawan yang kurang inovasi. Seakan perpustakaan hanya menjadi kebutuhan tertier saja. Padahal fungsi perpustakaan adalah sebagai jantungnya sekolah.

Untuk memperbaiki persoalan ini, maka diperlukan upaya-upaya kolaboratif yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah.


Pertama, kerjasama dengan Taman Bacaan Masyarakat (TBM)


Saat ini eksistensi TBM sungguh sangat menggembirakan. Kegiatan di TBM tidak hanya membaca buku saja. Meminjam buku, lalu pulang. Tapi diisi dengan program-program tambahan seperti public speaking, bedah karya dan pelatihan menulis. Langkah seperti ini sebagai upaya mengikat pengunjung untuk selalu berada di  lingkungan TBM.

Pihak sekolah bisa meniru dan memodifikasi program di Taman Bacaan Masyarakat untuk bisa diterapkan di perpustakaan sekolah.

Kedua, Membuat Poster Edukatif 

Membuat Poster Edukatif sebagai implementasi pelajaran Seni Budaya & Keterampilan (SBK) ke dalam kehidupan sehari-hari. Poster atau pajangan hasil karya siswa tersebut bisa diisi dengan slogan motivasi berupa ajakan minat baca. Dengan harapan siswa dan guru lebih tergugah akan minat baca.

Ketiga, lengkapi dengan buku bebas 

Koleksi buku di perpustakaan sekolah lebih dominan pada buku kurikulum saja, padahal buku tersebut sudah sering menjadi pembahasan bersama guru.  Atau mengandalkan buku-buku dari pemerintah.

Buku bebas yang sifatnya mendidik seperti novel, kumpulan cerpen, majalah dan koran pun seyogyangya harus dijadikan prioritas. Dengan tujuan untuk menyegarkan pikiran siswa, juga supaya lebih bisa membuka pola pikir dan wawasan.

Tentunya untuk buku bebas ada penyaringan dari pustakawan. Melengkapi perpustakaan dengan buku bebas dengan harapan mencegah siswa supaya tidak bosan dalam membaca.

Jika ada perubahan yang signifikan  pengunjung perpustakaan sekolah yang meningkat, sudah jelas perpustakaan sekolah sudah diminati siswa. Semoga budaya membaca di Indonesia bisa berkembang ke depannya. (***)
 Majalah Kandaga Online

***
Artikel ini Dimuat di Majalah Kandaga  Edisi 73 | Agustus 2015)          


Read More

Senin, 03 Oktober 2016

Kuliah Menulis Online KPKers Garut Bareng Kang Acil

GURUMUDA.WEB.ID - Kuliah Menulis Online KPKers Garut Bareng Kang Acil - Ada info yang sangat menarik dari Komunitas Penulis yang satu ini. Mereka menamakan KPKers alias Komunitas Penulis Kreatif. Kali ini KPKers wilayah Garut mengadakan Kuliah Menulis Online bareng Kang Acil.

Kuliah Menulis Online ini diadakan selama satu bulan ke depan, dimulai sejak 30 September 2016 s.d. 29 Oktober 2016, setiap hari pukul 20.00-21.00 WIB.


Materinya seperti apa?


Materi yang akan dibahas mulai dari motivasi menulis, cara memilih tema, latar/setting, penokohan, kiat tembus ke penerbit mayor, dan langkah-langkah meraih sukses (tidak hanya dalam karir menulis).

Investasi???

Seikhlasnya! I
Insya Allah seluruh biaya akan disumbangkan kepada korban yang terkena musibah banjir bandang di Garut.
.
Bagi yang tertarik untuk mengikuti pelatihan ini, silakan menghubungi ketua KPKers Garut: Alisa Septiyani Azizah (0823-2013-5751) atau melalui facebook Azizah Noor Qolam.
.
Untuk pembayaran kelas online dapat ditransfer melalui:
BNI a.n. Alisa Septiyani Azizah (0379921088)
Mandiri a.n. Alisa Septiyani Azizah (1770000250347)

Mari belajar sambil berbagi untuk meringankan beban saudara-saudara kita di kota Intan. Raih ilmunya, dapatkan keberkahannya. Semoga Allah membalas dengan yang lebih baik. Aamiin ya rabbal 'alamin :)

MASIH ADA KESEMPATAN UNTUK KULIAH ONLIN BARENG KANG ACIL INI
SILAKAN GABUNG DI SINI

Sekilas Profil Kang Acil


Kang Acil atau Kurniawan Al Isyhad. Penulis yang juga mentor kepenulisan. Buku yang sudah diterbitkan diantaranya: Lafadz Cinta, Mencintaimu Haruskah Sesakit Ini?, Dosa-Dosa Terindah, Kitab Cinta Malam Pertama, dsb
Read More

Rabu, 28 September 2016

Kepala MTs IQRO: Tingkatkan Mutu MTs IQRO dengan Memilih Guru dan Siswa Teladan

GURUMUDA.WEB.ID - Lagi-lagi, Kepala MTs IQRO, Alan Muhtar, S,Pd melakukan gebrakan yang inovasi. Kali ini dengan tujuan meningkatkan kualitas guru dan siswa, MTs IQRO akan memilih guru dan siswa teladan per bulannya.

Kepala MTs IQRO, Alan Muhtar,S.Pd sedang memberikan sambutan
Pemilihan guru dan siswa teladan ini dengan tujuan mengembangkan semangat kompetisi serta mendorong semangat bersaing sekaligus meningkatkan kemampuan guru dan siswa, pada akhirnya meningkatkan mutu pendidikan di lingkungan Madrasah Tsanawiyah IQRO Garut.

Secara umum, masih menurut Kepala MTs IQRO, pemilihan guru dan siswa teladan bertujuan untuk memberikan memberikan penghargaan kepada guru dan siswa yang memiliki prestasi bukan hanya secara akademik, tapi terkhusus adalah prestasi dari segi adab/akhlak/kepribadian.

Baca Juga:


Pemilihan guru dan siswa teladan akan dipilih tiap bulan. Pihak MTs IQRO akan memilih siswa teladan perkelas dan guru.

Semoga ini langkah baik untuk terus meningkatkan kualitas MTs IQRO. [Edu Journalism]

Read More

Sabtu, 07 Mei 2016

Kursus Menulis Sama Guru Renang?

www.gurumuda.web.id - - - Jika suatu perkara diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah akibatnya di kemudian hari. Belajar menulis ya harus ke penulis! Masa iya berguru menulis sama guru renang?

Ya. Saya dengan senang hati jika di kemudian hari saya bisa berguru di dunia kepenulisan kepada 'Guru Renang' yang satu ini. Bambang Trim. Sudah tidak asing lagi dengan nama yang satu ini di jagad kepenulisan. Penulis produktif dengan karya lebih dari 160 judul buku dan ratusan artikel/esai/feature yang tersebar di berbagai media ini, tak hanya sebagai pendiri ManisTebu.com. Tapi, kini beliau mendirikan Institut Penulis atau InsPena.

InsPena sebagai lembaga pendidikan dan kajian di bidang penulisan dan penerbitan menyediakan akses untuk siapa pun dan di mana pun mengikuti kursus penulisan-penerbitan, baik secara daring (online) maupun luring (offline).

Di Institut Penulis ini ada banyak kategori kursus kepenulisan, diantaranya: Penyuntingan (Editing), Penulisan Akademis, Penulisan Anak, Writerpreneurship, Penulisan Kreatif, Penulisan Bisnis, dan Penulisan Jurnalistik.

Kategori kepenulisan ini pun bisa diikuti dengan model kelas online atau offline.

Bambang Trim = Guru Renang?

Menurut Taty Elmir, Relawan Gerakan Ayo Membaca Indonesia, kehadiran InstitutPenulis.id tidak seperti kursus di bidang penulisan kebanyakan yang TIDAK BENAR-BENAR PRAKTIS. Bahkan, Elmir percaya bahwa pelajaran renang efektif hanya bisa diberikan guru renang yang memang jago renang. dan tentu saja guru 'renang' tersebut adalah Bambang Trim.


Ayo siapa yang mau ikut Kursus Menulis sama Guru Renang?
Read More

Rabu, 06 April 2016

Komunitas Guru Menulis

Menulis bagi guru seakan menjadi beban. Padahal menulis bagi guru seharusnya menjadi kebiasaan yang harus dinikmati di sela-sela rutinitas mengajar. Banyak alasan yang mendasar kenapa masih banyak guru yang tidak menyempatkan waktu untuk menulis walau satu hari saja.

Penulis yakini, sebagian besar guru tidak lagi menulis apa-apa selain menulis perangkat KBM. Yang sangat menyedihkan, ini tidak menimpa guru non bahasa tapi juga guru-guru yang mengampu mata pelajaran Bahasa  Indonesia.

Sebenarnya bila ada niat memperbaiki kualitas diri,banyak yang bisa diikhtiarkan. Menulis bisa menjadi lahan untuk memperbaiki kualitas seorang guru. Intelektualitas guru bisa dilihat sejauh mana ia senang menulis. Entah menulis opini di media massa atau melalui buku. Karena terciptanya tulisan buah daripada membaca.

Pengembangan budaya membaca dan menulis merupakan salah satu prinsip pengembangan pembelajaran pada saat menyusun perangkat pembelajaran. Maka, wajiblah bagi guru memasukkan pengembangan membaca dan menulis di setiap pengelolaan pembelajarannya.

Di media Koran cetak seperti Rubrik seperti Forum Guru di Pikiran Rakyat dan Guru Menulis di Republika seharusnya ditangkap secara cepat untuk kalangan guru. Ini peluang sangat prospektif untuk menggerakkan guru supaya senang menulis. Memberikan ruang khusus bagi guru untuk menuangkan buah pemikirannya.

Apalagi salah satu faktor untuk kenaikan pangkat dibutuhkan karya tulis. Tanpa pembiasaan menulis jangan harap karya tulis bisa tuntas, terkecuali dibuatkan oleh orang lain. Maka, sudah seharusnya guru ikut bergabung dengan komunitas menulis guru yang sudah ada atau membuat komunitas sendiri dengan rekan guru yang lain. Yang tak lain saling berbagi dan mengembangkan budaya menulis.

Guru-guru yang melek internet sangat ramai membuat komunitas guru menulis. Entah di blog atau membuat grup khusus di social media. Sayangnya, hanya sedikit yang meresponnya. Padahal komunitas guru menulis seperti ini menjadi ajang pembelajaran. Disana guru akan siap belajar menerima kritikan, masukan, dan bagaimana seharusnya menulis yang baik (layak dibaca).

Semoga dengan komunitas guru menulis, tidak ada anggapan bahwa guru malas (tidak bisa) menulis.

***
Opini di atas ditulis pada tanggal 24 Januari 2014. Yang pernah dikirimkan ke Pikiran Rakyat, namun tidak dimuat.

Ditulis oleh:
 *) Roni Yusron Fauzi
Guru MI & MTs IQRO Leles Garut
Content Writing blog www.gurumuda.web.id

Read More

Senin, 21 Maret 2016

Asma Nadia Sang Inspirator

www.gurumuda.web.id - - - BANGGA. Satu kata yang mewakili perasaan saya saat ini. Bersyukur pun tak luput menyelinap di hati saya. Bangga karena penulis yang saya idolakan menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia untuk mengikuti The International Writing Program (IWP) di Amerika. Sebuah program yang menyatukan para penulis seluruh dunia.

Pun saya merasa bersyukur. Karena saya salah satu dari bagian keluarga besar seorang penulis perempuan paling produktif di Tanah Air Indonesia ini. Asma Nadia. Siapa yang tak kenal dengan penulis yang satu ini. Sudah menelurkan sekitar 49 buku yang hampir semua best seller. Saya menjadi keluarga besarnya, Alhamdulillah saya diamanahi beliau untuk mengelola sebuah perpustakaan dhuafa dengan nama Rumah Baca Asma Nadia Garut.

Bahkan, saya diundang beliau untuk mengikuti Writing Workshop with Asma Nadia & Isa Alamsyah.  Banyak sekali pencerahan tentang dunia literasi yang jarang saya temukan oleh penulis lain. Ternyata banyak sekali kekeliruan cara penulisan yang selama ini saya tulis, di blog misalnya. Terkadang saya menyepelekan tanda baca, serangan kata yang sama, opening yang tidak menarik sampai miskin kosa kata. Namun, berkat pelatihan bersama Asma Nadia & Isa Alamsyah saya mampu melihat kekurangan saya.

Asma Nadia Sang Inspirator
Sejujurnya saya mengenali seorang Asma Nadia sewaktu SMP. Ketika itu saya membaca Majalah Annida pembelian kakak. Ceritanya ringan, namun mengena. Padahal beliau bukan dari jurusan sastra. Mungkin inilah kalau menulis dengan hati. Tulisannya pun akan menembak ke hati pula.

Bunda Asma (begitu saya panggil) pernah berkisah ketika beliau silaturahmi ke rumah saya (RBA Garut). Bagaimana kehidupannya masa lalu. Tinggal di sebuah bilik kayu di pinggir kereta api. Pernah pula ketika usianya tujuh tahun, kepalanya terbentur ujung besi yang lancip. Dokter memvonisnya gegar otak. Tak tanggung-tanggung, ketika dokter melakukan general check up, Bunda Asma pun dapat vonis tambahan: kelainan pada otak bagian belakang, paru-parunya kotor, bermasalah pada jantung. Bahkan empat belas giginya harus dicabut karena membusuk dan tak beraturan. Namun, tak menjadikannya lemah apalagi mengeluh.

“Saya akan melawan penyakit saya dengan berkarya, Kak. Dengan melakukan sesuatu.” Kata Bunda Asma seperti yang telah dituturkan kepada kakaknya, Helvy Tiana Rosa.
Kunjungan Bunda Asma & Team saat malam-malam. (dok. pribadi 12/6/2013)


Bunda Asma Nadia memang sosok yang menginspirasi. Terlebih buat saya dan anak-anak. Apalagi sekarang beliau menjadi satu-satunya mewakili Indonesia di kancah Internasional. Pastinya Indonesia bangga dengan anak negeri seperti Asma Nadia.

Semoga banyak Asma Nadia lainnya yang bisa mengharumkan Indonesia.

Oleh: Roni Yusron Fauzi

***

Tulisan ini pernah saya publish di blog saya sebelumnya gurumuda.info (udah expired) pada tanggal 25 Agustus 2013

Read More

Sabtu, 19 Maret 2016

Profesi yang tak pernah Pensiun itu Bukan Guru

www.gurumuda.web.id - - - Sebagai seorang guru tentu ada hasrat untuk menjadi guru PNS. Tapi, tidak dengan saya, Alhamdulillah saya tak begitu menggebu-gebu seperti orang lain. Yang rela mengeluarkan (menyogok) demi sebuah profesi menjadi guru yang punya penghasilan tetap setelah pensiun nanti. 

Saya tak begitu ambisius sebagai PNS, karena saya punya profesi lain. Menjadi Penulis. Bagi saya profesi sebagai penulis tak ada yang namanya pensiun sebagaimana para PNS. Meskipun kita sudah tak bekerja lagi, profesi ini menjadi lahan untuk menambah penghasilan. Mengirimkan ke berbagai media, atau menerbitkan buku sendiri menjadi langkahnya. 

Inilah hebatnya berprofesi sebagai penulis. Penulis tak mengenal batas usia, atatupun pekerjaan. Karena semua berhak menjadi penulis. Makna penulis adalah orang yang menulis. Gelar penulis bukan hanya dimiliki oleh orang seperti Dr. Aidh Al Qarni saja. Kita pun berhak menyandang predikat sebagai seorang penulis. 

Bahkan katakan pada orang lain ketika ada yang menanyakan, “Apa profesi kamu?”. Jawab dengan percaya diri, “Saya Penulis.” Beruntunglah mereka yang berprofesi sebagai seorang penulis. Karena profesi ini tak pernah pensiun.

***
Tulisan ini pernah saya publish di blog saya sebelumnya gurumuda.info (udah expired) pada tanggal 17 Oktober 2012

Salam Pembelahjar
Roni Yusron Fauzi
Read More

Kamis, 17 Maret 2016

Pak Roni Ayahku juga kan?

www.gurumuda.web.id - - - SEPERTI biasa, sebelum Ashar rumah saya selalu dikunjungi anak-anak kampung untuk mengaji. Rumah yang tak begitu luas dirasa cukup untuk menampung anak-anak yang jumlahnya sekitar 75an, walau ruangan dapur ikut dipakai juga. Cukup sesak memang. Tapi tak menyurutkan semangat mereka untuk terus mendalami ilmu agama dari pengasuh yang masih miskin ilmu ini.

Jadwal hari Kamis adalah Mahabbah ar Rasul (Mencintai Nabi). Ini merupakan pelajaran yang sangat disukai anak-anak. Terlihat dari antusias mereka pada apa yang saya kisahkan tentang perjalanan manusia termulia, panutan sekalian alam, yang diutus sebagai rahmatan lil alamin, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaih wasallam. Mereka sangat khusyuk mendengarkan kisah Nabi ketika Perang Badar, mereka terpesona pada cerita tentang keistimewaan Rasulullah. Budi pekerti Nabi yang harus diteladani.

Kamis yang senja ketika itu, saya mengisahkan Nabi shalallahu ‘alaih wasallam dan Anak Yatim.
Suatu hari Rasulullah SAW., keluar dari rumahnya untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri. Saat itu beliau menyaksikan anak-anak yang tengah bermain bersuka cita menyambut hari kemenangan. Diantara anak-anak yang tengah bermain itu, beliau SAW mendapati seorang anak yang tengah bersedih duduk sendiri sambil menundukkan kepalanya. Pakaian yang ia kenakan tak layak untuk dipakai untuk seusianya yang ketika hari raya menginginkan pakaian yang bagus juga baru.
Rasulullah kemudian menghampiri anak itu, dengan lembut nabi mengelus kepala yang kusam dengan lembut.
Lalu beliau SAW bertanya, “Wahai Anakku, apa gerangan yang membuatmu bersedih hati di saat orang lain bersuka cita pada hari ini?”
Dengan mata yang masih nanar anak kecil itu menjawab, “Ya Rajul (wahai lelaki), ayahku telah mati syahid di medan pertempuran bersama Rasulullah. Ibuku menikah lagi. Ayah tiriku merampas sisa harta peninggalan ayahku, lalu mengusir aku. Sehingga aku tak punya makanan, minuman, pakaian, apalagi tempat tinggal,” 
Anak itu masih menunduk dan menangis, tidak tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah penghulu para nabi dan rasul, Rasulullah SAW.
“Hari ini kusaksikan teman-temanku bersuka cita karena mereka memiliki ayah, sedangkan aku…,” lanjutnya.
Mengajak Yatim Dhuafa makan di @WarungDjawara. (7/3/2016)

Rasul mendekap anak itu, lalu berkata, “Wahai anakku, apakah engkau ridha jika aku menjadi ayahmu, 'Aisyah sebagai ibumu, Ali pamanmu, Fathimah bibimu, lalu Hasan dan Husain menjadi saudaramu?”
Anak itu menengadahkan kepalanya, ia terkejut. Ternyata lelaki yang mendekapnya itu adalah panutannya, Rasulullah SAW.
“Tidak ada alasan untuk tidak ridha wahai Rasulullah,” jawab anak itu tersenyum bahagia.
Lalu Rasulullah mengajak anak itu ke kediamannya, dan meminta kepada 'Aisyah untuk memandikannya serta memberikan pakaian yang bagus. Juga makanan yang lezat.
Anak kecil yang tadi berpakain lusuh dan berwajah kusam itu kini berubah terlihat bersih dan ceria, rambutnya tersisir rapi tentunya mengenakan pakaian bagus dari Rasul.
Ia keluar dengan senyum mengembang, bahagia. Teman-temanya yang sedang bermain dikejutkan dengan penampilannya yang telah berubah.
“Tadi kau bersedih, kenapa sekarang kau tampak gembira?” Tanya salah seorang dari mereka.
“Tadi aku memang lapar, tapi sekarang perut ini kenyang. Kalian lihat tadi aku tak berpakaian yang layak, tapi sekarang kukenakan pakaian yang bagus. Kalian mengetahuinya kalau aku adalah yatim, tapi saat ini Rasulullah telah menjadi ayahku, 'Aisyah ibuku, 'Ali dan Fathimah menjadi paman dan bibiku, sedang Hasan dan Husain menjadi saudaraku…” matanya berkaca-kaca.
“Apakah aku tak pantas untuk bahagia di hari kemenangan ini?“ lanjutnya

BELUM berakhir saya mengisahkan anak yatim bersama Rasul, saya dikagetkan dengan sesegukan salah satu santri saya, saya belum tahu persis siapa yang sedang menangis, karena teeralang oleh teman di sampingnya. Lagi pula ia menunduk. Yang pasti itu suara perempuan. Tiba-tiba ia mendekati saya, dengan berlinang ia berucap, “Pak Roni ayahku juga, kan?”

Saya mengiyakan. Kepalanya saya elus dengan penuh kasih. Entah kenapa air mata saya pun ikut mengalir, semua anak-anak yang hadir ikut menangis melihat apa yang dilakukan Kintan. Mereka seolah mengerti apa, padahal Kintan belum bercerita kalau ia seorang anak yatim.

“Kenapa kamu menangis, Neng?” saya coba menanyakan untuk menjawab kepanasaran.
“Aku juga tidak jauh beda sama yang Pak Roni ceritakan, aku anak yatim,” jawabnya sembari memeluk saya.
“Baiklah, mulai saat ini Neng adalah anak Abi (bapak),” kata saya.
Mulai saat itu, saya menspesialkan Kintan, ketimbang anak-anak kampung lain yang berayah. Terkadang bila ada uang hasil dari honor sebagai seorang guru honorer selalu saya sisihkan untuk Kintan. Walau tak banyak, namun ini menjadi anggaran wajib yang harus dikeluarkan perbulan. Tentu dengan bermusyawarah dengan istri.

Janji nabi tak pernah keliru. “”Barang siapa yang meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang, maka Allah akan menuliskan kebaikan pada setiap lembar rambut uyang disentuh tangannya.” Dan ini begitu sangat saya rasakan. Saya teringat ketika itu, sisa uang honor saya tinggal Rp. 20.000 dan saya lupa kalau bulan itu saya belum memberi jatah buat Kintan. Karena ingat pada janji saya, uang itu pun saya berikan untuk Kintan.

Rezeki pasti sudah diatur. Kebaikan pun pasti dibalas. Alhamdulillah, tanpa saya duga sebelumnya. Kepala Sekolah dimana saya mengajar memberikan amplop, padahal gaji sudah diberikan dua minggu yang lalu. “Lalu ini uang apa?” saya coba mengira-ngira.
“Ini uang hasil jasa pengetikan soal UTS kemarin,” kata Pak Kepala seolah mengerti kebingungan saya.
Saya buka amplop yang masih tertutup rapat itu. Uang sebesar 175.000 bagi saya bukan uang yang sedikit. Terima kasih Ya Allah, Engkau sebaik-baiknya Pemberi. Apakah ini keberkahan dari apa yang saya lakukan untuk anak yatim seperti Kintan? Wallahu ‘alam.


***
Tulisan ini pernah saya publish di blog saya sebelumnya gurumuda.info (udah expired) pada tanggal 20 Oktober 2012

Read More

Mengetik 10 Jari dengan Keybook

www.gurumuda.web.id - - - DIANTARA pelajaran dasar TIK, pengenalan tentang alat-alat Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK) menjadi bahasan utama. Selanjutnya, pembahasan perangkat komputer: Hardware, Software dan Brainware.
Gambar-gambar perangkat tersebut biasa saya tampilkan dengan LCD Proyektor. Tampak antusias siswa MI IQRO, mereka menyangka akan menonton video kartun.

Saya menampilkan beberapa contoh  perangkat Hardware (perangkat keras),  salah satunya keyboard. Deretan huruf dan angka di papan kunci QWERTY saya perlihatkan kepada mereka. Lalu, saya menyuruh mereka untuk belajar mengetik 10 jari

Terus terang, sekolah belum bisa memfasilitasi laboratorium komputer, itu menandakan belum banyak komputer yang dimiliki. Jumlah komputer bisa dihitung dengan jari.

Untuk menyiasati kekurangan perangkat komputer, sementara anak-anak harus praktik. Maka, inspirasi itu datang ketika saya melihat salah seorang siswa yang mengetik di buku. Bukunya ia buka, seakan ia tengah membuka laptop. Melihat itu, saya menginstruksikan kepada dua puluh siswa supaya membuka bukunya masing-masing. Sampul buku mereka akan dijadikan layar monitor, sementara beberapa lembar kertas  sisanya akan dijadikan Keyboard.

“Ketika bapak perintahkan ketik A, maka kalian tekan kelingking kiri!” mereka pun memeragakan apa yang saya intruksikan.
“S...” mereka menekan jari manis kiri.
”D... ”
”F...
”space... ”
”J... ”
”K... ”
”L... ”
”titik koma,” mereka sangat serius dengan imajinasinya.

Mereka menggunakan Keybook. Ya, saya namai “Keybook”, artinya papan buku. Mengetik di buku sebagai pengganti Keyboard.

1 Laptop untuk 20 Siswa! Solusinya?
dok. yusronfauzi.com


Yakin dimana ada masalah di situ ada solusi terbaik. Pun dengan saya sebagai guru TIK yang sangat minim fasilitas TIK. Dimana satu laptop ternyata bisa dimanfaatkan oleh puluhan siswa. Mereka harus antri untuk mempraktikkan materi yang telah saya sampaikan. Namun, ketika kita berkreasi dan berimprovisasi dalam mengajar, maka solusi yang solutif akan datang di saat yang tepat.

Seperti masalah kekurangan media pembelajaran yang saya alami. Tak ada Keyboard, keybook pun jadi. Yang penting materi bisa disampaikan dengan baik, anak-anak bisa memahami dengan baik pula. Ini salah satu keberhasilan pembelajaran.

Apa Target Guru TIK Seperti Saya?

Hampir semua orang mempunyai target keberhasilan. Hasil dari sebuah proses tentunya ada target yang harus dicapai, termasuk guru TIK seperti saya. Sebenarnya apa target guru seorang guru TIK?

Pertama, Siswa Memahami Dasar-dasar TIK
Permasalahan penghapusan mata pelajaran TIK di kurikulum 2013 tidak memengaruhi saya untuk tidak mengajar TIK di sekolah. Justru saya semakin semangat untuk memberikan pengetahuan Teknologi Indormasi & Komunikasi di Era Digital saat ini.
Capaian yang ditargetkan, siswa harus memahami pelajaran TIK, minimal faham akan dasar-dasar TIK itu sendiri.

Kedua, Guru GO! BLOG, Siswa Ngeblog
Ya. Pastinya Anda sudah tahu makna Guru GOBLOG, yaitu guru yang senang ngeblog. Berbagi tulisan dengan media blog. Meskipun sudah banyak guru yang melek internet dengan membuat blog sebagai medianya. Namun, sangat jarang guru yang menularkan vitamin ngeblognya kepada anak didiknya.
Padahal pelajaran TIK sudah dikenalkan di sekolah dasar. Materi seperti program Microsft Office Word dan membuat email sudah cukup membantu untuk mendorong siswa membuat blog. Ini sebagai solusi mengurangi kecanduan siswa dalam bermain game yang menjadi masalah berat bagi kita sebagai guru ataupun orang tua.

Ketiga, Kontes Blog Per Kelas
Sebagai bahan evaluasi dari pembelajaran TIK, khususnya pembuatan blog. Kompetisi blog per kelas menjadi target saya untuk menciptakan Internet Sehat & Terdidik di kalangan siswa juga guru. Lomba kebersihan tiap kelas sudah biasa dilakukan, tapi lomba blog? Cukup jarang.

Tiap hari senin akan diumumkan ketika upacara bendera, siapa pemenang tiap minggunya. Ini akan menjadi terobosan yang cukup menantang bagi saya sebagai guru yang tertuduh “sangat paham tentang TIK.”

Untuk sementara saya hanya bisa mencoba menjadi teladan bagi para siswa dan juga guru, memositifkan media digital. Bila ketiga target di atas sudah terpenuhi, maka ini langkah nyata memanfaatkan  teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk menunjang proses mengajar.

Semoga Bermanfaat.

***
(Tulisan ini pindahan dari tulisan di blog saya sebelumnya yusronfauzi.com tanggal 5 September 2014)




Read More

Sabtu, 05 Maret 2016

Guru Honorer Cantik Ini Berpenghasilan Puluhan Juta per bulan

GURUMUDA.WEB.ID - - Rizka Heryani Yulisa tidak menyangka darah wirausaha yang mengalir dari ibu mengantarkannya menjadi seorang Womenpreneur.


Ia mengawali usahanya di bidang kuliner ketika ada tugas semasa kuliah. Saat itu materi perkuliahannya adalah Kewirausahaan. Dosen menugaskan setiap mahasiswa harus membuat sebuah produk. Maka, terbesitlah di benak Rizka saat itu untuk mengemas cemilan yang mudah dan murah. Dipilihlah Cemilan KKN menjadi labelnya.

“Tahun 2013 banyak kasus korupsi tokoh-tokoh nasional, termasuk salah satu artis cantik yang menjadi tersangka. Maka, saya plesetkan Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN) menjadi Krenyes Krenyes Nikmat,” ujar Rizka yang pernah kuliah jurusan PKn di STIKP Garut ini.

Siapa sangka, berawal dari tugas akhir semasa kuliah dengan modal Rp. 137.000, guru honorer cantik ini kini berpenghasilan puluhan juta per bulan.

“Alhamdulillah, tentu saja ini hasil do’a dan kerjasama tim, termasuk reseller yang sudah tersebar di luar kota,” sambung guru PKn di SMK IT IQRO yang kini memiliki sekitar 200 reseller ini.
karyawati Cemilan KKN, Leles, Garut. (dok. Pribadi)
Ada 12 variant yang diproduksi Cemilan KKN, diantaranya produk unggulan Makaroni , Kerang Sakti, Rantai Cinta, Stick Balado, Cireng Cinta, dll. Untuk tingkat kepedasannya pun mulai dari original sampai level 10.

Yang membanggakan, Cemilan KKN menjadi salah satu dari 3 produk UKM unggulan Kecamatan Leles.

BACA JUGA:
Berpenghasilan puluhan juta tidak menjadikan guru yang masih gadis ini lupa diri. Rizka pun menularkan jiwa kewirausahaannya kepada anak didiknya. Dengan gemblengannya, salah satu anak didiknya ada yang berpenghasilan Rp. 125.000 per hari.

Tak hanya itu, memberdayakan masyarakat menjadi target mulianya. Ada belasan ibu-ibu rumah tangga Kampung Kandang Kaler, Desa kandang Mukti, Leles yang menjadi bagian dari tim Cemilan KKN. Dengan harapan banyak terlahir ibu-ibu yang mapan dan mandiri. (Roni Yusron Fauzi)

#EduPreneur
#MomPreneur
Read More

Rabu, 24 Februari 2016

Workshop Online NgeBLOG Sehat dan Menulis KreAtif bareng Guru Muda

Salam Blogger…

Banyak diantara teman-teman guru dan adik-adik pelajar yang meminta saya untuk diajarkan bagaimana carangeblog dan menulis. Padahal banyak sekali tutorial seputar ngeblog dan menulis di luaran sana.
Tentu saja saya sangat menerima niat baik teman-teman guru & pelajar tersebut. Berbekal pengalaman ngeblog diawali pada tahun 2008 dan mengikuti pelatihan kepenulisan dari beberapa tempat, termasuk mengikuti Asma Nadia Writing Workshop dan Teacher Writing Camp5.
Jujur. Saya masih terus mengasah kemampuan ngeblog dan menulis. Namun, saya yakin “jika ingin ilmu bertambah, maka berbagilah!”
Nah, motto tersebut menyemangati saya untuk terus belajar dan berbagi.

Baiklah. Bagi rekan-rekan guru yang mau mengikuti Workshop Online Ngeblog Sehat & Menulis Kreatif bareng Guru Muda silakan ikuti syarat pendaftarannya:


  1. Masuk ke Grup Tertutup: Workshop Online Ngeblog & Menulis Kreatif Bareng Guru Muda. Ini linknya: https://www.facebook.com/groups/910993022354319/?fref=ts
  2. Like fanspage gurumuda.web.id (https://www.facebook.com/inovasigurumuda/?fref=ts) dan Twitter: @gurumudawebid
  3. Peserta terbatas sampai 20 orang saja
  4. Membuat Blog di Wordpress.com (karena kita fokus ke konten, bukan tampilan)
  5. Workshop ini dilaksanakan selama 4 pertemuan pada bulan Maret 2016 (tanggal 5, 12, 17, 26) 
  6. Waktu Workshop: Malam Minggu Pkl. 19.30 s.d 21.30
  7. Info Materi Workshop Online ada di Grup Tertutup di atas

Fasilitas:

  1. Ilmu Ngeblog Sehat
  2. Ilmu Menulis Kreatif
  3. Konsultasi Seputar Blog & Menulis, waktu BEBAS selama bulan Maret 2016
  4. E-Sertifikat
  5. Semua Tulisan Peserta di bukukan dengan versi EBOOK
  6. GRATIS desain Header Blog 
  7. Dll (menyusul)


BERAPA BIAYANYA?

Sebenarnya saya suka galau untuk berbicara tentang investasi, apalagi untuk sebuah ilmu. Namun, ada yang harus dibayar mahal untuk sebuah skill. Tentunya, saya membedakan antara ilmu akhirat (agama) dan ilmu umum. Saya kategorikan untuk workshop ini ke dalam ilmu umum.

Maka, saya menyerahkan sepenuhnya untuk masalah biaya ke peserta.
Silakan teman-teman bisa mendonasikan ke pesantren yang akan saya bangun.

Donasi teman-teman kirim ke:
No. Rekening 708-56789-19 (kode bank: 451)
a.n Pondok Pesantren Nurul Musthofa

Jumlah donasi diakhiri dengan angka 9, misal: Rp. 50.009

Baiklah sekian info Workshop Online Ngeblog Sehat & Menulis Kreatif bareng Guru Muda

Selamat Menggikuti!

NB:
Terbuka untuk Sponsor/Donatur
Silakan untuk menghubungi saya di akun
Facebook: Roni Yusron Fauzi
WA/HP: 085320029951


Read More

Rabu, 10 Februari 2016

Kenali Profil Penulis Buku "GURU KREATIF DI ZAMAN DIGITAL"

GURUMUDA.WEB.ID - - Workshop Teacher Writing Camp 5 membuktikan bahwa pelatihan ini  melahirkan para peserta yang produktif. Salah satu dari hasil pelatihan tersebut adalah terbitnya buku karya dari para peserta dari bebagai daerah di Indonesia. Berikut beberapa profil para Penulis Buku "GURU KREATIF DI ZAMAN DIGITAL"

Anita Kusmira
Lahir di Pasaman 10 April 1988. Sejak kecil bercita-cita sebagai guru. Keseharian sederhana dan mudah bergaul menjadikan saya memiliki banyak teman. Saya hari ini adalah bantuan dan do’a dari orang-orang yang mencintai saya.


Triawati Agusnila
Lahir di Purbalingga, 3 Agustus 1979 sebagai anak ketiga dari lima bersaudara. Saat ini terus mendedikasikan diri berbagi ilmu bersama anak bangsa di SMA N 1 Bobotsari, Purbalingga, Jawa Tengah. Di tengah kesibukan juga sebagai istri dan ibu dari 3 malaikat kecil Azrinas Rafa Purnama, Hibatullah  Zayyan Purnama dan Mahanna Afan Purnama.
Mempunyai mimpi ingin menaklukkan dunia dengan menulis. Tak ada yang tak mungkin jika kita berusaha. Insya allah segala perjuangan akan sampai pada ujungnya.

Harum Mulia Hati Wijaya, ST
Lahir di Grobogan, 26 Juni 1982. Kesibukan sehari-hari sebagai guru di TK Cendekia Genuk Indah, sekaligus sebagai Kepala Sekolah serta Pengelola Yayasan Fasatalya Cendekia yang beralamat di  Jl. Kapas Utara Raya F. 823 Genuk Indah Semarang.

Juga sebagai guru bagi kedua putrinya yang bernama Alya Labibah Hanavi dan Bernice Farzana Hanavi. Diaman dalam mendidik selalu berprinsip dengan Learning by doing. Dan mendidik harus selalu dengan rasa senang, tidak karena terpaksa.

Atjih Kurniasih
Lahir di Kuningan, 11 Oktober 1962. Menyelesaikan pendidikan D2 di IKIP Jakarta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendididkan, Jurusan IPS (1983 - 1985). Telah menyelesaikan S1 Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Suryakancana Cianjur pada tahun 2008.

Sejak 1986 hingga saat ini berkarier sebagai pengajar di bidang studi IPS. Tahun 1986 - 1989 karir sebagai pengajar diawali di SMPN Lebak Wangi. karena alasan keluarga, maka sejak tahun 1989 menjadi pengajar di SMPN 1 Cipanas, hingga saat ini.

Kegemarannya menuis sudah digeluti sejak SMP. Buku diary atau buku catatan hariannya menjadi tempat untuk menuangkan semua ide-idenya.
Pada tahun 2013 mulai menulis di blog. Baik blog pribadi ataupun keroyokan semacam Kompasiana dan Guraru. Namun, tulisannya lebih banyak dituangkan di blog pribadinya.

Blog pribadi yang sebahagian besar menceritakan tentang pengalaman kesehariannya sebagai pengajar. Bagi penulis, anak didiknya merupakan sumber tulisan yang tiada habisnya.

Di tahun 2013, mengikuti Teacher Writing Camp 3 (TWC 3) yang diadakan oleh Ikatan Guru Indonesia. Yang mengantarkan dirinya memenangkan beberapa lomba menulis di blog, diantaranya:
1. Juara I Lomba blog dalam rangka Hari Guru Nasional 2014
2. Pemenang tantangan ngeblog oleh Komunitas Sejuta Guru Ngeblog (KSGN) 2015

Read More

Rabu, 30 Desember 2015

Guru Kampung yang Nggak Kampungan

“Lokasi belajar boleh di kampung,
tapi standar tidak boleh kampungan”
(Anies Baswedan)

www.gurumuda.web.id - - KATA MUTIARA dari Menteri Pendidikan Dasar & Menengah dan Kebudayaan, Anies Baswedan ini mewakili impian saya ke depan. Bathin mengamini untuk segera memantapkan diri fokus saja mengasuh dan mendidik anak-anak kampung. Mereka yang setiap sore sampai malam belajar mengaji dari si pendosa ini. sebagian dari mereka adalah anak-anak yang diabaikan oleh bapaknya, bahkan ada yang tak beribu bapak.

Ada dorongan kuat pada diri saya,
“Saya harus menjadi ayah sekaligus guru bagi mereka!”

Tak terbayang bagaimana perasaan Farhan (bukan nama sebenarnya) yang hampir tiga belas tahun tidak bertemu dengan bapaknya. Ditinggalkan begitu saja ketika ia berusia beberapa bulan saja di dunia. Jelas-jelas diabaikan.

Atau Yanto, anak kelas enam yang belum fasih membaca abjad. Saat ini tinggal bersama kakek neneknya yang pemulung. Ditinggal mati bapaknya karenaa tertabrak kereta api.

Karena anak-anaklah saya lebih memantaskan diri untuk menjadi guru kampung saja. Tentunya menjadi guru kampung yang nggak kampungan. Mengasuh dan mendidik dengan mengolaborasikan pembelajaran kreatif dan pengimbang zaman.

Sangat disadari, saya sudah muak kalau harus berurusan dengan birokrasi yang pintar main ‘game’ offline. Banyak sekali permainan yang berpedoman “uang adalah segalanya”.

Ah, rasanya saya pengin cepat-cepat hengkang saja jadi guru formal.

Sok idealis. Benar. Idealis untuk masalah seperti ini sangat wajar bagi orang seperti saya.  Yang tak mau ikut ke dalam lingkaran setan. Toh, masih banyak rezeki di luar sana. Jadi trainer, misalnya. Yang penting tidak jauh dengan dunia pendidikan. Karena pendidik sudah menjadi passion bagi saya. Apalagi yang menguatkan, ayah saya seorang pendidik juga.

Guru Kampung yang Nggak Kampungan. Kenapa nggak?

Ditulis oleh: Roni Yusron Fauzi

Read More

Jumat, 25 Desember 2015

Satu Buku Sebelum Pikun

GURUMUDA.WEB.ID  -- Bersyukur dapat hadiah KEJUTAN dari Komunitas Sejuta Guru Ngeblog (KSGN), bisa mengikuti pelatihan menulis paling bergengsi akhir tahun ini. TEACHER WRITING CAMP 5.

Tambah terkejut lagi para pesertanya adalah guru-guru hebat dari sekolah masing-masing. Ada yang dari Semarang, Solo, Cirebon, Garut dan kota lainnya.

Saya dapati tujuan event paling bergengsi di akhir tahun ini adalah"untuk menginspirasi peserta menjadi guru yang BEDA."

Benar sekali. Menurut Pak Dedi @dwitagama,  fakta dari 3 juta guru, cuma sedikit yang hebat.

Nah, diantara yang minoritas itu adalah guru yang sebagai penulis. Dua profesi yang berbeda.

Ya, karena bisa jadi pekerjaan kita saat ini belum tentu menjadi karir masa depan. Profesi sebagai PENULIS sangatlah beruntung. Karena dengan menulislah, semua cita-cita bisa diraih. Mau jadi Dokter? Menulislah tokoh seorang Dokter, yang berkacamata, ganteng, ya nggak jauh sama yang nulis ini.

Tapi, jangan salah! 

Menulis ada karena Membaca.Dengan membaca, sel-sel otak mengajak untuk selalu aktif. Bila didiamkan, jangan salahkan bila otak berkarat. PIKUN.

Maka, Satu Buku Sebelum Pikun adalah cara tepat untuk menjadi pribadi bermanfaat.

***Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis di Sosmed sesi-1 ‪#‎TeacherWritingCamp5
Read More