Tampilkan postingan dengan label Fiksi Edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi Edukasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juni 2016

Fiksi Edukasi: IBLISIAH

www.gurumuda.web.id - - -  Berkah dari membaca adalah semakin tergerak untuk menulis. Lama sekali saya tak menggoreskan pena untuk membuat sebuah puisi. Berikut beberapa puisi yang saya buat menjelang sahur:

IBLISIAH

Sekian lama aku duduk di lembayung pagi
Kuatnya IA yang telah menciptakan
Kebesaran-Nya tak hanya untuk kita
Tapi untuk diri-Nya

Jiwa terendus oleh syahwat duniawi
Diombang ambing dengan keraguan
Kelapakan jika tak dipenuhi
Menggugat Tuhan
Padahal Ia Maha Pemaksa

Kekeliruan yang tak pernah padam
Nafsu iblisiah diikuti
Cahaya semakin meredup
Karena tak pernah meminta cahaya
Hitam menjadi keyakinan
Kealpaan sudah menjadi obat
Kelam
Nista

12 Ramadhan 1437 H
23.51


Cinta manakah yang Engkau inginkan?

Tuhan…
Beri aku kepastian untuk memiliki cinta
Bukan cinta samar yang tak pernah tergambar
Bukan pula kepalsuan 

Tuhan…
Cinta manakah yang Engkau inginkan?
Beri aku kemudahan dalam mencintai
Mencintai Engkau dengan kefanaan

Tuhan…
Di sini banyak tuhan-tuhan
Cukupkan Engkau adalah Tuhanku


18 Juni  2016
00.49 WIB

- Pesantren Nurul Musthofa - Kadungora

***
Puisi ini juga dikirmkan ke Koran Garut Express

Read More

Minggu, 20 Maret 2016

Ketika Bu Sonia Selingkuh

www.gurumuda.web.id - - - “Dulu kumaafkan. Tapi untuk kali ini, dengan berat hati, kita CERAI!” gertak laki-laki berkumis mengagetkan aku dan dua guru lainnya yang sedang memeriksa hasil ujian akhir semester.  Segera ia pergi tanpa salam seperti biasanya.

Baru kali ini aku melihat sosok yang santun, berubah menjadi begitu amarah dari seorang Pak Burhan, kepala sekolah dimana aku mengajar. Perempuan berkerudung berumur 30 tahunan yang tepat duduk di sampingku itu hanya hanya bisa menangis pasrah. Bu Sonia, guru kelas III. Ia adalah isteri Pak Burhan.  Ia semakin terisak, namun ia juga tahu ada empat masang mata sedang menatap ke arahnya.

Aku dan Bu Sri tak berani menanyakan alasan kenapa Pak burhan dengan mudahnya melontarkan kata-kata  yang dibenci Allah itu. Kami hanya melihat Bu Sonia iba.

“Saya selingkuh…”  singkat Bu Sonia.

Aku dan Bu Sri beradu mata dan kompak mengernyitkan kening.

“Kenapa bisa, Bu?” Tanya Bu Sri semakin mengerutkan keningnya.

Aku juga Bu Sri tahu tipikal Bu Sonia itu seperti apa. Tak mungkin ia begitu tega mengkhianti lelaki yang menjadi  teladan bagi para guru, terlebih bagi Bu Sonia sebagai imam keluarga.

“Utang saya sepuluh juta. Saya meminjam dari tabungan anak-anak,” jawab Bu Sonia yang tergesa merapikan buku.

Apa? Meminjam tabungan siswa? Sampai sepuluh juta pula.

“Saya berselingkuh bukan mengkhianati cinta bapak. Saya meminjam uang tabungan sekolah tanpa sepengetahuan bapak. Saya selingkuh kepercayaan.” tambahnya.

Kata Bu Sonia, ini bukan yang pertama. Ia terpaksa melakukan itu karena nafkah yang diberikan suaminya tak cukup untuk biaya keluarga. Ia sangat mengerti dengan penghasilan Pak Burhan sebagai guru honorer merangkap kepala sekolah swasta itu jauh dari biaya hidup sehari-hari.

Bu Sonia pergi, meninggalkan kami yang masing tematung. Tak percaya.

***
Sumber Gambar di sini

Tulisan ini pernah saya publish di blog saya sebelumnya gurumuda.info (udah expired) pada tanggal 31 Desember 2012

Read More

Minggu, 16 Agustus 2015

Puisi Cinta Negeri: Saatnya Guncangkan Dunia, Kawan!

GuruMuda.web.id -Sebagai penghormatan dan penghargaan akan HUT ke-70 Kemerdekaan Republik Indonesia saya akan berbagi puisi dengan tema Puisi Cinta Negeri, yang telah saya posting sebelumnya di blog YusronFauzi.com tahun 2012. Tak ada salahnya untuk saya ditulis di blog Guru Muda.

Berikut puisi dengan tema Cinta Negeri yang berjudul "Saatnya Guncangkan Dunia, Kawan!"



Kawan…

Bangsa ini sudah lama sakit
Susah disembuhkan
Terlalu banyak virus yang menyebar
Bila tak segera berobat, matilah kita!



Kawan… 
Negeri pejuang ini pantas untuk bangkit
Jangan hiraukan rasa sakit
Bila selamanya tak ingin menjadi pesakit
Saatnya bangkit!



Ingatkah kau Kawan…
Soekarno pernah berkata, 
“Beri aku seribu orang,dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru

Beri aku sepuluh pemuda yang membawa cintanya pada Tanah Air

Dan aku akan mengguncang dunia!”


Negeri ini butuh kita 
Butuh pemuda tangguh seperti kita
Saatnya Guncangkan Dunia, Kawan!
Read More